Rabu, 14 Juni 2017, 13:23

Menyambut PESPARANI, DITJENBIMAS Katolik Selenggarakan Sosialisasi dan Pembentukan LP3KN

Jakarta,DBKat--Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (DITJENBIMAS) Katolik, Kementerian Agama RI sebagai institusi pemerintah memiliki otoritas dan wewenang yang bersifat mendorong, membimbing, melaksanakan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan keagamaan Katolik dalam masyarakat secara langsung maupun tidak langsung yang tidak terlepas dari koridor Visi dan Misi yang telah ditetapkan. Visi yang dirumuskan DITJENBIMAS Katolik adalah "terwujudnya masyarakat Katolik yang seratus persen Katolik dan seratus persen Pancasilais dalam negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika." Salah satu ciri Visi tersebut adalah terwujudnya pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi sebagai penjabaran operasional, yaitu "mengajak masyarakat Katolik untuk berperan serta secara aktif dan dinamis dalam mencapai tujuan pembangunan bangsanya."

Salah satu langkah DITJENBIMAS Katolik dalam mencapai tujuan visi dan misi adalah memotivasi dan memfasilitasi kehidupan beragama Katolik yang terdiri dari beragam aktivitas kehidupan keagamaan Katolik. Dalam rangka pengembangan iman, aktivitas peribadatan merupakan sarana utama. Untuk mengembangkan aktivitas peribadatan itu, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan; salah satunya dalam tata ibadat/liturgi.

DITJENBIMAS Katolik, sebagai instansi Pemerintah, tentu saja perlu ambil bagian untuk mendukung pengembangan tata ibadat/liturgi tersebut untuk pembinaan dan peningkatan iman umat. Inilah yang menjadi dasar untuk memfasilitasi terbentuknya lembaga yang bergerak dan berperan meningkatkan tata ibadat/liturgi sekaligus mengembangkan Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik sebagai kegiatan untuk menyatakan eksistensi masyarakat Katolik dalam kebersamaan dengan masyarakat sekitarnya, menampilkan ekspresi ibadah yang tertata dan kesempatan untuk mengembangkan budaya keagamaan Katolik.

Didorong oleh kebutuhan masyarakat Katolik dan amanat Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 35 Tahun 2016 Tentang Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik, DITJENBIMAS Katolik melaksanakan Pertemuan Pembentukan Pengurus LP3K (Munas) yang diselenggarakan 13-16 Juni di Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh unsur Pemerintah dan Gereja Katolik seluruh Indonesia.

Dalam arahan pembukaan pertemuan, Selasa (13/06), Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi mengapresiasi Menteri Agama yang telah memberi perhatian terhadap perkembangan pendidikan dan iman umat Katolik. Setelah Penegerian Sekolah Tinggi Agama Katolik pertama di Pontianak 26 April lalu, umat Katolik boleh kembali berbahagia karena Menteri Agama telah memberikan payung hukum pelaksanaan PESPARANI Tingkat Nasional. Payung hukum ini lahir karena kerja keras semua pihak yang saling berkoordinasi untuk mewujudkan impian umat Katolik di Indonesia.

"Pemerintah sangat tepat menanggapi keinginan dan kerinduan masyarakat Katolik supaya ada kesempatan untuk bertemu bersama umat Katolik dari Sabang sampai Merauke dan oleh karena itu perlu ada dasar hukum yang jelas untuk sebuah penyelenggaraan yang bersifat nasional maupun lokal. Bahwa lahirnya PMA ini bukan ikut-ikutan dengan agama-agama lain yang sudah menyelenggarakan kegiatan bertahun-tahun sejak lama, tetapi PMA ini dikeluarkan untuk mengakomodir pembinaan umat Katolik di Indonesia. Bahwa masyarakat Katolik sebagai bagian integral dari bangsa ini ingin menunjukkan eksistensi dirinya sebagai anak bangsa," ujar Dirjen.

"Setelah PMA Nomor 35 Tahun 2016 ditetapkan, maka kita bersama-sama harus bersinergi dengan pihak terkait seperti Kementerian Keuangan untuk mengalokasikan anggaran, serta bekerjasama dengan pihak PEMDA Provinsi calon tuan rumah yang akan mempersiapkan semua acara yang akan kita selenggarakan. Tidak lupa kerja sama dengan Gereja Katolik untuk mengawal agar dapat melaksanakan amanat Pemerintah melalui Kementerian Agama untuk membina kehidupan beragama umat Katolik, agar terwujud masyarakat Katolik yang beriman, berakhlak mulia dan bermoral serta terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan dasar negara kita Pancasila," lanjut Dirjen.

Puncak kehidupan umat Katolik dalam kehidupan gereja adalah Ekaristi Kudus. Dalam Ekaristi kudus ada doa dan lagu. Lagu merupakan ungkapan doa umat yang dinyanyikan oleh umat sebagai ungkapan, ekspresi doa manusia kepada Tuhan. Menyanyikan lagu dengan baik dalam perayaan ekaristi mendorong umat untuk lebih menghayati imannya, seperti ada ungkapan St. Agustinus Qui Bene Cantat Bis Orat yang artinya siapa bernyanyi dengan baik, sama dengan berdoa dua kali.

"Ini yang perlu kita dorong agar masyarakat Katolik tidak hanya mencintai lagu-lagu pop, lagu-lagu rohani, tetapi mereka perlu mencintai lagu-lagu liturgi. Ketika PESPARANI mulai dilaksanakan saya yakin masyarakat Katolik akan semakin terlibat aktif dalam kehidupan menggereja, karena mereka akan sibuk berlatih lagu-lagu, sibuk latihan mazmur, dan sibuk latihan membaca Kitab Suci. Dan ketika mereka sibuk dengan hal-hal yang mulia seperti itu akan mempengaruhi penurunan penggunaan narkoba, perbuatan maksiat, minum mabuk atau perbuatan-perbuatan lainnya yang sangat mengganggu ketenteraman bersama maupun keselamatan dirinya sendiri," ungkap Dirjen menutup arahannya.

Pertemuan ini akan diisi berbagai materi dari narasumber, pembentukan dan sidang komisi-komisi.

*Joice

Berita Lainnya
Rabu, 6 September 2017, 13:21

Sekolah Menengah Agama Katolik Pertama Pulau Timor terlahir di Betun

Senin, 24 Juli 2017, 11:43

Umat Katolik Hendaknya Menjadi Agen Dialog Kerukunan di Tengah Masyarakat

Senin, 17 Juli 2017, 14:20

RDP Komisi VIII DPR RI dengan Dirjen Bimas Katolik

Sabtu, 15 Juli 2017, 09:59

Dirjen Hadiri Yubileum Emas Mgr. Angkur

Minggu, 28 Mei 2017, 14:56

Dirjen Bimas Katolik Hadiri Seminar Nasional HKSN 2017