Senin, 24 Juli 2017, 11:43

Umat Katolik Hendaknya Menjadi Agen Dialog Kerukunan di Tengah Masyarakat

Photo by Edwin

Jakarta,DBKat--Akhir-akhir ini dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkembang di dalam masyarakat mengalami kecenderungan penurunan derajat persatuan dan kesatuan anak bangsa. Kondisi melemahnya pondasi kebangsaan tersebut tampaknya menjadi lahan subur munculnya berbagai ancaman, salah satunya adalah kian terkikisnya kerukunan bangsa serta perkembangan paham radikalisme yang kian mengkhawatirkan.

Hal ini disampaikan Dirjen Bimas Katolik dalam arahannya kepada Peserta Pertemuan Penyusunan Program Kerja Berdasarkan Pagu Anggaran TA 2018 Tingkat Nasional di Jakarta baru-baru ini.

Berdasarkan laporan Kemerdekaan Beragama/Berkeyakinan (KBB) di Indonesia tahun 2016 yang dirilis oleh Wahid Foundation menyatakan bahwa telah terjadi kenaikan peristiwa pelanggaran KKB dari tahun 2015 (190 Peristiwa dan 249 Tindakan) dan 2016 (313 Tindakan dan 204 Peristiwa) sejumlah 7 %.

Hasil pengukuran Indeks Ketahanan Nasional (IKN) oleh Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional LEMHANAS didapatkan bahwa IKN pada tahun 2016 sebesar 2,60. IKN diukur berdasarkan 8 Gatra (Geografi, Demografi, Sumber Kekayaan Alam, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan). Skor IKN Indonesia (2,60) dikategorikan sebagai kategori Kurang Tangguh, yg berarti berpotensi goyah dalam menghadapi tantangan dan hambatan dari dalam maupun luar negeri (Tiga Gatra yang mendapatkan skor terendah adalah Sumber Kekayaan Alam, Ideologi dan Sosial Budaya).

Melihat kondisi bangsa seperti ini, Dirjen berharap umat Katolik mampu dan mau terjun ke masyarakat melaksanakan penghayatan iman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Umat Katolik harus mampu menghayati iman Katolik dan mampu menjadi agen dialog kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk, itulah tantangan Program Bimbingan Masyarakat Katolik ke depan. Dalam hal ini Umat Katolik perlu untuk terus memperkuat Wawasan Kebangsaan agar mampu menjadi perekat kesatuan bangsa. Membina umat Katolik untuk menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia, di situlah peran strategis kita untuk bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai," ungkap Dirjen.

Kepada Penyuluh Agama Katolik Dirjen juga berharap peningkatan pembinaannya dalam menjadi ujung tombak pembinaan umat Katolik se-Indonesia.

Pada tahun 2017 DITJENBIMAS Katolik telah memfasilitasi agar wawasan kebangsaan masuk ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi Umum, hal ini menjadi salah satu langkah nyata di dalam memperkuat Wawasan Kebangsaan.

"Ke depan kita perlu merumuskan aktivitas-aktivitas dalam rangka menguatkan Wawasan Kebangsaan dengan seluruh pihak yang berkehendak baik dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika."

Lebih lanjut Dirjen menegaskan tahun 2018 yang akan datang, kegiatan besar yang akan dilaksanakan adalah Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik. Ini adalah yang pertama dan akan menjadi sejarah yang tidak akan terlupakan.

"Untuk itu saya harap kegiatan ini menjadi ajang pembinaan umat Katolik dan sekaligus menunjukan bahwa masyarakat Katolik sebagai bagian integral dari bangsa dan negara Indonesia berkomitmen untuk terus senantiasa mengawal Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Pulau Rote," tegas Dirjen.

*Joice

Berita Lainnya
Sabtu, 15 Juli 2017, 09:59

Dirjen Hadiri Yubileum Emas Mgr. Angkur

Rabu, 14 Juni 2017, 13:23

Menyambut PESPARANI, DITJENBIMAS Katolik Selenggarakan Sosialisasi dan Pembentukan LP3KN

Minggu, 28 Mei 2017, 14:56

Dirjen Bimas Katolik Hadiri Seminar Nasional HKSN 2017

Jumat, 26 Mei 2017, 14:46

Empat Kekosongan Jabatan di Lingkungan Ditjen Bimas Katolik Sudah Terisi

Senin, 22 Mei 2017, 14:04

Dirjen: Tahbisan adalah Perayaan Penuh Bahagia Sekaligus Perayaan Reflektif dan Introspektif