Kamis, 3 Agustus 2017, 11:30

Menteri Agama Membuka Kegiatan AYD 2017 di Yogakarta: Perjumpaan untuk Membangun Komitmen Solidaritas dan Perdamaian dalam Kemajemukan Asia

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin

Yogyakarta,DBKat--Kehadiran Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, disambut tepukan sukacita Orang Muda Katolik Asia. Menag membuka kegiatan Asian Youth Day 2017 yang bakal berlangsung mulai tanggal 2 hingga 6 Agustus 2017 di Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Menteri Agama mengatakan bahwa kehadiran peserta AYD ke-7 ini, menunjukkan komitmen solidaritas untuk membangun hidup bersama dalam kemajemukan budaya, ras, negara, dan agama. Semangat ini selaras dengan tema yang diusung yakni Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia: Mewartakan Kabar Sukacita di wilayah Asia yang memiliki kemajemukan sebagai rahmat dari Tuhan.

Menag menegaskan sebagai bangsa yang menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, Indonesia berupaya merawat dan memelihara kerukunan yang teraktualisasi ke dalam berbagai bentuk toleransi umat beragama. "Kebiasaan baik ini, adalah warisan para leluhur dan pendiri bangsa Indonesia untuk meniscayakan kerukunan bahkan jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka," ungkap Menteri.

Hal yang sama diharapkannya dari kaum muda Katolik Asia, yang dengan sukacita menyiarkan kabar perdamaian dalam warna kehidupan Asia yang majemuk. "Sebagai jejaring raksasa dalam pertemuan tahunan AYD ini, semoga kenyataan hidup kebersamaan ini, menjadi kabar sukacita yang layak disiarkan Anda sekalian, yang berasal dari wilayah maupun negara yang berbeda. Karena kekuatan orang muda, selain semangatnya, kalian juga adalah agent of change. Agen perubahan yang menjadikan dunia ini menjadi semakin baik," papar Menteri.

Sebelumnya, pesan senada juga disampaikan Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Menurutnya, AYD merupakan kegiatan berkelanjutan dengan kekuatan berjejaring membangun kebersamaan di tengah kehidupan majemuk Asia. "Inilah saat dimana kita dengan sukacita mewartakan pesan Injil, sehingga kehadiran kita dan Gereja Katolik, dirasakan manfaatnnya oleh masyarakat luas," ungkap Mgr. Rubiyatmoko.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang turut hadir juga menyampaikan pesannya untuk mereaktualisasikan kebhinnekaan menjadi nilai yang tak mudah usang oleh waktu. Kaum muda harus mampu menjadi pionir, mau bergaul dan belajar dalam situasi keberagaman. Ketika semua merayakan perbedaan maka perayaan itu akan menjadi sumber kemajuan.

Sebagai penanda Asian Youth Day ke-7 resmi dibuka, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin, dan Mgr. Robertus Rubiyatmoko memainkan othok-othok yang diikuti oleh seluruh peserta. Othok-othok merupakan salah satu mainan tradisional dari Daerah Istimewa Yogyakarta, terbuat dari bambu dan menjadi cinderamata yang dibagikan ke seluruh peserta.

Rangkaian kegiatan diisi pula dengan atraksi dari budaya negara-negara asal peserta. Sebagian besar diantaranya bahkan mengenakan kostum daerah, khas asal tujuan para delegator. Asian Youth Day ke-7 ini diharapkan menjadi sarana untuk bertemu dan merayakan perbedaan satu sama lain. Cerita, sukacita, dan dinamika yang terjalin tidak hanya berhenti di kota ini tetapi menjadi bekal dan kabar baik yang dibagikan kepada sesama di berbagai belahan dunia lainnya.

*Maria dan Joice

Berita Lainnya
Minggu, 6 Agustus 2017, 19:21

Misa Penutupan Kegiatan Asian Youth Day ke-7 Tahun 2017

Rabu, 2 Agustus 2017, 14:16

Persiapan Menjelang Acara Pembukaan AYD 2017

Selasa, 1 Agustus 2017, 21:00

Para Peserta AYD Telah Tiba di Indonesia

Selasa, 7 Februari 2017, 13:12

Mastuki: Pentingnya Pola Pelayanan Efektif dan Transparan

Selasa, 13 Desember 2016, 09:45

Peringatan HAKI 2016: Menumbuhkan Inisiatif Masyarakat Ikut Lawan Korupsi