Selasa, 22 Agustus 2017, 18:24

Dirjen: Agar Tidak Menjadi Sekularis dan Mengalami Kekeringan dan Kesombongan Rohani, Anak-anak Harus Dididik oleh GPAK yang Kompeten

Jakarta,DBKat--Berdikusi dan belajar bersama terkait tugas dan fungsi sebagai Pengawas Pendidikan Agama Katolik (Pengawas PAK) menjadi hal penting yang dipikirkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik. Untuk memfasilitasi hal tersebut, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik mengadakan Pertemuan para Pengawas PAK melalui sebuah kegiatan bertajuk Pembinaan Kompetensi Pengawas PAK Tingkat Muda Regio Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. Kegiatan ini adalah lanjutan kegiatan serupa yang telah dilaksanakan sebelumnya di regio Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Hadir dalam pertemuan ini peserta sejumlah 60 orang, yang selama empat hari, mulai dari tanggal 22 s.d. 25 Agustus 2017 akan mematangkan kompetensi mereka melalui materi-materi yang diberikan narasumber dan juga sharing atau diskusi tentang kegiatan mereka sebagai Pengawas PAK di tempat kerjanya masing-masing. Kegiatan yang berlangsung di Golden Boutique Hotel Jakarta ini didahului dengan pre-test dan pada akhir kegiatan nanti akan ada post-test.

Dalam arahan pembuka yang disampaikan Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi, peserta diharapkan memanfaatkan waktu dengan baik selama kegiatan berlangsung, ikuti dengan baik materi yang disampaikan narasumber, dan saling sharing tentang tugas di lapangan.

Dirjen menyampaikan profisiat kepada para Pengawas PAK yang walaupun berbekal fasilitas terbatas, tetapi dengan kemampuan maksimal mampu menjalankan tugas mendampingi Guru PAK di wilayah kerjanya masing-masing.

"Bapak dan Ibu Pengawas telah memberikan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan agama Katolik dan pengembangan iman Katolik melalui pendidikan. Bapak dan Ibu berhadapan dengan motivator para siswa. Pengawas adalah gurunya para guru. Hampir sama dengan guru agung, yang artinya kompetensinya harus luar biasa," ungkap Dirjen yang selama memberikan arahan tidak lupa menyampaikan hal-hal menarik yang membuat suasana menjadi lebih akrab.

Pertemuan seperti ini menurut Dirjen penting untuk meningkatkan kompetensi Pengawas PAK. Apalagi Republik ini sudah mencanangkan tahun 2045 -ketika 100 tahun usia kemerdekaan- kualitas orang Indonesia harus setaraf kualitas penduduk dunia. Semua berbasis teknologi.

"Generasi kita harus siap untuk kondisi bertahun-tahun yang akan datang. Mereka tidak boleh menjadi manusia sekularis pada zamannya karena tidak kenal agama. Generasi kita tidak boleh mengalami kekeringan dan kesombongan rohani yang membuat mereka menjadi sombong atau angkuh," tegas Dirjen. Karena itu, menurut Dirjen, tugas Pengawas PAK adalah mengarahkan generasi muda menjadi generasi yang berkualitas tidak saja untuk hari ini, tetapi di waktu mendatang ketika mereka bersaing dalam dunia kerja.

Dirjen melanjutkan, untuk meningkatkan kompetensi, dua hal pokok yang harus disadari betul oleh Pengawas PAK adalah Spiritualitas dan Profesionalitas.

Spiritualitas yang dimaksud Dirjen adalah spiritualitas Yesus: menderita, wafat di salib dan bangkit.

"Karena itu Pengawas PAK tidak boleh mengeluh, karena sebagai orang Katolik kita selalu punya pengharapan.Pengawas PAK harus punya spirit, dan spirit itu adalah Roh. Roh itu nafas. Berusaha untuk selalu bicara yang baik dan benar supaya gaungnya juga baik."

Sedangkan untuk meningkatkan profesionalitas, Pengawas PAK harus mampu menyiapkan guru dan murid yang bisa meningkatkan pembangunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya pembangunan kehidupan beragama agar harapan menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen Warga Negara Indonesia dapat tercapai.

"Jika kita ingin menjadi seratus persen Katolik maka hendaknya kita menjadi Katolik yang militan. Sekencang apapun badai, kita tegak berdiri sebagai Katolik yang patriotik dan sungguh mencintai Indonesia," tegas Dirjen yang dalam beberapa kesempatan selalu mengingatkan agar umat Katolik hindari radikalisme dan paham-paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan.

Selain itu, Dirjen tidak lupa mengingatkan bahwa guru dan anak didik harus mampu bersaing, tidak boleh menyerah pada nasib. Perkuat tata kelola dan akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban, Guru PAK harus punya rencana mengajar.

Mengakhiri arahannya, Dirjen berjanji untuk terus berupaya memfasilitasi pertemuan seperti ini.

"Ditjen Bimas Katolik akan berupaya untuk selalu bertukar pikiran dan berefleksi tentang pikiran-pikiran kita melalui kegiatan dan program-program inovatif. Kita saling memperbaiki untuk mencari model yang pas sesuai tuntutan zaman," tutup Dirjen.

*Joice

Berita Lainnya
Jumat, 21 Juli 2017, 20:23

Pemerintah Bersinergi dengan Gereja Katolik Membangun Mutu Pendidikan Agama Katolik di PTU

Rabu, 31 Mei 2017, 12:25

Wawasan Kebangsaan akan Masuk dalam Materi Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Perguruan Tinggi

Selasa, 16 Mei 2017, 16:00

Pelatihan Penulisan Jurnal PTAK Berbasis Teknologi Informasi – Online System

Rabu, 12 April 2017, 16:04

SMAK St. Arnoldus Janssen Keerom Papua: Beranda Terdepan NKRI

Selasa, 11 April 2017, 11:13

Ujian Nasional Berbasis Komputer SMAK Santo Yoseph Sangatta Kutai Timur