Minggu, 3 Desember 2017, 07:35

Dirjen: Dibutuhkan Komitmen Bersama untuk Merangkul Kebersamaan dalam Keberagaman

Jakarta,DBKat--DITJENBIMAS Katolik Kementerian Agama RI menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Guru Pendidikan Agama Katolik dalam Rangka Pemahaman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila Tingkat Nasional di Jakarta, pada 1 s.d. 3 Desember 2017.

Pancasila adalah dasar negara dan alat pemersatu keberagaman bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, lepas dari dinamika idelogi dunia, Pancasila sebagai pedoman gerak langkah seluruh warga Negara Indonesia, tetap relevan sebagai sumber kesadaran seluruh bangsa untuk bersatu di bawah payung Negara Indonesia.

Tidak mengakarnya lagi ideologi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lembaga pendidikan atau sekolah, menjadi salah satu latar belakang terjadinya radikalisme yang semakin marak terjadi saat ini. Lembaga pendidikan turut mengambil bagian dalam proses penanaman nilai-nilai Pancasila sedini mungkin dalam diri peserta didik. Lembaga pendidikan juga merupakan sarana yang penting dalam mengajarkan etika dan moral berbangsa.

Dalam laporan pembukaan yang disampaikan oleh Ibu Eka Yuliarsih selaku Ketua Panitia, dijelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila, nilai-nilai agama Katolik, dan kearifan lokal. Selain itu, diharapkan agar para peserta mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dan semangat kebangsaan pada sekolah yang terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Sementara sasaran pertemuan ini adalah Guru Pendidikan Agama Katolik dari tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK seluruh Indonesia.

Dirjen Bimas Katolik, Eusabius Binsasi, dalam arahannya mengingatkan bahwa sebagai sebuah falsafah dan ideology bangsa, Pancasila terus mengalami tantangan terhadap nilainya melalui aneka fenomena: ancaman terhadap kelanggengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, krisis penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, radikalisme dan fundamentalisme agama, etnosentrisme sempit, serta amoralitas para anak bangsa, baik rakyat maupun pemerintah. "Kita butuh gerakan besar demi revitalisasi dan reinternalisasi nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat, agama, dan budaya Indonesia yang bhinneka. Oleh karena itu dibutuhkan dibutuhkan komitmen bersama untuk merangkul kebersamaan dan keberagaman," tegas Dirjen.

Terakhir, Dirjen berpesan kepada para peserta: "Dengan semangat nasionalisme dan patriotisme yang tinggi, kita laksanakan profesi kita untuk mendidik anak-anak yang dipercayakan orang tua kepada kita, untuk menyiapkan mereka menjadi warga Negara dan warga Katolik yang baik." (Sakeng)

Berita Lainnya
Minggu, 3 Desember 2017, 07:43

Mgr. Ignatius Suharyo: Kita Harus Merawat Ingatan Bersama untuk Diwariskan Turun Termurun

Rabu, 22 November 2017, 19:59

Pentingnya Sinergitas Pemerintah, Hierarki dan Umat Katolik dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama dan Keagamaan Katolik

Rabu, 8 November 2017, 08:18

Pagelaran Selesai, STKPK Bina Insan Samarinda Meraih Champion

Senin, 6 November 2017, 12:36

Uskup Agung Jakarta: Lewat Keindahan yang Kita Lihat dan Kita Dengarkan, Kita Dibantu Untuk Sampai Kepada Tuhan, Sang Pencipta Keindahan

Senin, 6 November 2017, 11:45

Pagelaran Paduan Suara PTAK Berlangsung Meriah