Selasa, 5 Desember 2017, 14:23

Dirjen: Kita Paksa Dunia Ini Harus Sama Dengan Kita, Padahal Taman Indah Kalau Bunganya Berwarna-warni

Jakarta,DBKat--Pancasila adalah roh bangsa yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan bangsa dan negara dewasa ini. Namun praktiknya dalam kehidupan sosial masyarakat, nilai-nilai Pancasila yang seharusnya menjadi perekat bangsa mulai luntur.

Merawat Pancasila adalah tugas bersama, karena itu sosialisasi Pancasila menjadi penting agar nilai-nilainya tetap hidup dan menjadi landasan pijak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama bertekad untuk terus berkontribusi merawat nilai-nilai Pancasila dengan berbagai cara, salah satunya mengadakan pertemuan dalam rangka pemahaman, penghayatan dan pengamalan Pancasila bagi para Pengawas Pendidikan Agama Katolik (PAK) se-Indonesia yang dilakukan di Jakarta, 4-6 Desember 2017. Sosialisasi pentingnya Pancasila ini tentu tidak mengurangi esensi dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri melainkan dikemas dalam metode-metode yang relevan dan mudah dipahami.

Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi yang membuka pertemuan ini menekankan pentingnya Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Keberagaman menjadi sesuatu yang istimewa di negara yang majemuk ini. Pancasila perlu terus digaungkan dan didialogkan baik dalam kelompok internal maupun seluruh komponen bangsa agar menjadi dasar yang kuat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana kita ketahui, saat ini dimana-mana terjadi konflik sosial yang terjadi dalam kelompok internal maupun antarkelompok masyarakat. Nilai-nilai penghayatan religiusitas semakin merosot. Penghujatan terhadap agama sering terjadi. Disinilah pentingnya Pancasila sebagai pemersatu bangsa.

Dirjen menyampaikan pengalamannya ketika menghadiri interfaith dialogue di Serbia, Indonesia dipuji karena memiliki dasar negara Pancasila yang nilai-nilainya sangat universal. Di luar dipuji, tetapi di dalam, ada beberapa kelompok masyarakat yang ingin mengganti ideologi Pancasila. Sejak awal bibit untuk mengganti Pancasila itu sudah ada; sudah kelihatan. Padahal, jika kita belajar dari sejarah, bangsa ini kokoh karena perjuangan bersama. Nilai Pancasila itulah yang menjadi kekuatan dalam perjuangan. Dari sejarah juga kita belajar bahwa perjuangan parsial dan kedaerahan tidak membawa keberhasilan. Keberhasilan ada karena bersatu.

Seringkali kita tidak menyadari betapa indahnya perbedaan. Kita terjebak dalam pemikiran bahwa hanya kita yang baik, hanya kita yang benar, di luar itu salah. Munculnya paham ekstremisme menyebabkan ada kelompok yang menolak keragaman. Terkait itu, maka tugas Pengawas PAK menurut Dirjen adalah memastikan anak didik kita menerima perbedaan dan mampu hidup dalam keragaman. Jangan sampai kita memaksa semuanya harus sama dengan kita.

"Kita paksa dunia ini harus sama dengan kita, padahal taman indah kalau bunganya berwarna-warni," ungkap Dirjen.

Tugas Pengawas PAK lainnya adalah memastikan bahwa pendidikan yang diajarkan adalah pendidikan yang membebaskan diri dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan keterbelengguan. Pendidikan yang diajarkan adalah pendidikan yang tidak mengarahkan anak didik menjadi radikal dan intoleran. Sekolah harusnya membuat hidup menjadi lebih bermartabat.

Kepada para Pengawas PAK, Dirjen juga berpesan untuk terus mengimplementasikan empat pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Di atas empat pilar bangsa, kita dirikan rumah besar NKRI di tengah kehidupan yang mengalami pergeseran dan perubahan yang mengkhawatirkan," tegas Dirjen.

Di akhir sambutannya, Dirjen meminta Pengawas PAK dan semua masyarakat agar memaknai Pancasila sebagai ideologi yang terbuka, luwes dan fleksibel, mampu memberikan orientasi tentang kehidupan yang akan dihadapi. Pancasila juga menghendaki Bangsa Indonesia bertahan dalam jiwa dan budaya Bangsa Indonesia dalam ikatan NKRI dan yang pasti praktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketahanan bangsa sudah sering teruji, dan Pancasila adalah fondasi yang menguatkan. Tidak penting lagi kita bicara latar belakang, karena kita sudah menjadi satu dalam bingkai ke-Bhinnekaan. Pancasila sudah final.

(joice)

Berita Lainnya
Selasa, 21 November 2017, 17:48

Dirjen Bimas Katolik Hadiri Syukuran Penggunaan Gereja Katolik St. Andreas Kim Tae-gon

Jumat, 17 November 2017, 13:19

Dirjen Bimas Katolik Menerima Kunjungan DPRD Kota Kupang

Selasa, 26 September 2017, 10:32

Hadiri Tahbisan Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Dirjen: Negara hadir bersama Gereja dan Gereja hadir bersama Negara

Jumat, 15 September 2017, 14:08

Pendidikan Kemandirian Yang Digagas Dirjen Sejalan Dengan Cita-cita Komisi PSE-KWI

Rabu, 6 September 2017, 13:21

Sekolah Menengah Agama Katolik Pertama Pulau Timor terlahir di Betun