Sabtu, 30 Desember 2017, 13:31

Pesan Natal 2017 Presiden Joko Widodo

Pontianak, DBKat--Berlangsung meriah di Rumah Radangk-Pontianak, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyatu dalam kegembiraan bersama ribuan umat Kristiani yang merayakan sukacita Natal Nasional 2017, Kamis (28/12). Perayaan yang mengusung tema "Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu" dan Subtema "Merajut Kebersamaan dalam Membangun Masyarakat Indonesia yang Aman, Damai, dan Sejahtera" ini dihadiri juga oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden ke-enam Try Sutrisno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang juga Ketua Panitia Natal Nasional 2017 Ignasius Jonan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Gubernur Kalimantan Cornelis, Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, Uskup di Provinsi Gerejawi Pontianak, Uskup Emeritus Mgr. Hyeronimus Bumbun,Ketua PGI Pdt. Henriette Tabita Lebang, Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi, Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury, Direktur Urusan Agama Katolik Sihar Petrus Simbolon dan beberapa Pejabat Eselon III DITJENBIMAS Katolik dan DITJENBIMAS Kristen.

Adapun pesan Natal 2017 yang disampaikan Presiden Joko Widodo, sebagai berikut:

"Di dalam kebaktian Natal kita menemukan sebuah pemandangan indah, cahaya lilin-lilin kecil yang dinyalakan oleh jemat Kristiani di seluruh penjuru tanah air. Cahaya lilin yang menjadi lambang terang di dalam kehidupan, yang menjadi simbol pemandu di dalam kegelapan, cahaya yang mengingatkan kita akan nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai keutamaan bahwa manusia hendaknya saling megasihi, saling menjaga, dan saling mencintai. Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan negara kita Indonesia pada hari ini maupun di masa-masa yang akan datang. Terlebih dalam menjalani kodrat kita untuk hidup dalam keragaman, dalam kemajemukan, dalam kebhinnekaan. Keragaman yang perlu dirawat dengan cinta kasih untuk terus menjaga persudaraan, menjaga kebersamaan, menjaga kerukunan dalam jalinan Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan balutan cinta kasih, kita akan saling menghormati, kita akan saling menghargai, kita akan saling menjaga, kita akan saling melindungi sesama anak bangsa. Saya yakin semangat cinta kasih akan menghadirkan kedamaian di hati, akan menebarkan kedamaian di seluruh penjuru tanah air, serta mewujudkan perdamaian abadi di seluruh muka bumi. Saya juga percaya, semangat cinta kasih akan menjadikan kita semua bersatu untuk menghadapi semua tantagan sebagai bangsa serta secara bersama-sama berjuang untuk kesejahteraan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam perayaan Natal Nasional ini, saya juga mengajak seluruh umat Kristiani di seluruh tanah air Indonesia agar jangan pernah lelah bekerja, jangan pernah lelah bekerja di ladangnya Tuhan, jangan pernah lelah bekerja di ladang pengabdian kita masing-masing, apapun profesinya, apapun pekerjaannya, apapun status yang kita miliki: baik pedagang, supir, petani, buruh, PNS, TNI, Polri. Jangan pernah lelah bekerja untuk kemajuan dan kejayaan bagsa dan negara.

Tuhan sudah memberi anugerah kepada kita untuk hidup di tanah air kita Indonesia yang kekayaan alamnya begitu melimpah dan memberi kita kecukupan. Namun Tuhan tentu tidak ingin kita jadi berdiam diri, kita harus terus berusaha, bekerja keras dan berdoa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju, bangsa yang makmur.

Di seluruh pelosok tanah air, kita membangun dari desa, membangun dari pulau-pulau terdepan, membangun kawasan-kawasan perbatasan sebagai beranda terdepan Republik Indonesia. Kita sedang berlayar menuju negara maju dengan membangun manusia Indonesia, sekali lagi membangun manusia Indonesia, manusia Indonesia yang unggul, manusia Indonesia yang tangguh, manusia Indonesia yang bermartabat.

Perjalanan menuju ke kemajuan bangsa ini membutuhkan peran semua elemen bangsa termasuk umat Kristiani untuk menjadi manusia-manusia terbaik di bidangnya masing-masing, untuk menjadi pribadi-pribadi yang optimis, yang tangguh, yang selalu hidup dalam kasih sayang di hati, yang selalu membantu sesama manusia, yang selalu mau untuk bergotong-royong.

Natal harus membawa perubahan sikap mendasar dalam kehidupan bersama kita sebagai bangsa, karena dunia telah berubah dengan cepat dan perubahan itu tidak bisa dibendung lagi. Jika tidak mau tertinggal dengan perubahan, maka kita harus menyiapkan diri, harus beradaptasi, harus mengantisipasi dengan cepat setiap gelombang perubahan yang terjadi. Untuk itu, Natal bukan saja perayaan seremonial belaka, tetapi harus menjadi momentum untuk membawa semangat perubahan, semangat untuk mengejar ketertinggalan, semangat untuk kemajuan, semangat bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Natal juga harus membawa semangat kesahajaan, semangat untuk berani megatakan cukup, semangat rela berbagi, dan semangat memperkecil ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin.

Itulah yg perlu selalu kita ingat dalam momentum perayaan Natal, untuk terus menyalakan lilin-lilin di dalam hati, membawa semangat baru, membawa semangat perubahan.

Yang terakhir, saya titip:

Negara kita ini negara besar. Tahun depan kita akan melaksanakan perhelatan politik lima tahunan yaitu pilkada di 171 kabupaten/kota dan provinsi. Saya titip sekali lagi: negara kita ini negara yang besar. Jangan sampai kita mengorbankan persatuan, jangan sampai kita mengorbankan persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa, saudara sebangsa dan setanah air hanya untuk urusan pilkada. Silakan pilih pemimpin-pemimpin terbaik yang ada di provinsi, kabupaten dan kota. Tapi setelah itu rukun kembali sebagai satu saudara sebangsa dan setanah air.

Perlu saya ingatkan, negara kita betul-betul sebuah negara besar yang majemuk, yang beranekaragam suku: 714 suku kita miliki. Ini saya ulang dimana-mana untuk mengingatkan kita bahwa memang kita beragam. Saya bertanya kepada Duta Besar Singapura berapa suku yang mereka miliki: Empat. Kita 714. Saya bertanya kepada Presiden Afghanistan, berapa suku yang dimiliki Afghanistan: 7 suku. Indonesia 714. Ini yang terus saya ingatkan dimana-mana, perlu saya ingatkan agar kita tidak lupa bahwa negara kita ini negara yang besar. Jangan hanya gara-gara pilkada, pemilihan walikota, pemilihan bupati, pemilihan gubernur dan kemudian nanti pemilihan presiden, persaudaraan kita menjadi tidak rukun lagi, tidak bersatu lagi. Jangan!

Silakan pilih pemimpin-pemimpin terbaik, coblos, dan setelah itu rukun kembali. Jangan sampai nanti saat kampanye saling mencela, saling menjelekkan, saling mencemooh. Kita lupa bahwa kita ini saudara-saudara sebangsa dan setanah air, padahal itulah yang harus kita rawat dan pelihara. Jangan hanya karena pesta demokrasi lima tahun sekali kita mengorbankan itu. Silakan kandidat-kandidat terbaik menyampaikan program-program terbaik, adu prestasi, adu rencana-rencana terbaik ke kotanya, ke kabupatennya, ke provinsinya."

Beberapa dokumentasi perayaan Natal Nasional 2017 (foto: Joice)

(Joice)

Berita Lainnya
Kamis, 4 Januari 2018, 15:16

Maluku Kembali Tegaskan Siap Jadi Tuan Rumah PESPARANI Katolik Nasional Pertama

Kamis, 14 Desember 2017, 13:28

Pertemuan Bimas Katolik dengan Pastor Paroki se-Keuskupan Sibolga

Selasa, 21 November 2017, 16:10

Jadikan Gereja Katolik Sebagai Tempat Membangun Kemanusiaan Sejati

Selasa, 21 November 2017, 14:49

Manson Sinaga: Hadirnya Gereja Katolik St. Andreas Kim Tae-gon adalah Wujud Sinergitas Gereja, Pemerintah dan Masyarakat

Minggu, 6 Agustus 2017, 19:31

Acara Penutupan AYD ke-7 Tahun 2017: Aku Pancasila, Aku Indonesia, Aku Asia, Aku Bersaudara