Rabu, 3 Januari 2018, 11:44

Pesan Kedamaian Menteri Agama pada HAB Kemenag ke-72

Jakarta,DBKat--"Hari ini, hari paling membanggakan bagi keluarga besar Kementerian Agama. Pada tanggal 3 Januari 1946, Kementerian Agama resmi berdiri sebagai bagian dari perangkat bernegara dan berpemerintahan. Pada hari itu pula Indonesia mengukuhkan diri sebagai negara yang pertama kali memiliki kementerian di bidang agama."

Demikian pengantar sambutan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Upacara Peringatan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-72, Rabu(3/1).

Lebih lanjut, Menteri Agama menegaskan bahwa Kementerian Agama bertugas mengawal dasar negara Pancasila yang didalamnya mengandung nilai-nilai agama dan mencerminkan jatidiri bangsa Indonesia.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah jantung kebangsaan, tempat bertemunya semangat beragama dan cinta tanah air. Sila kedua, kemanusiaan yang Adil dan Beradab, berintikan ajaran universal semua agama dalam menghargai jiwa, kehormatan, dan kehidupan setiap manusia. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, bermakna ikatan bangsa yang merajut keberagaman masyarakat Indonesia. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mewujud pada sistem demokrasi yang khas Indonesia. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia diterjemahkan dalam kebijakan menggerakkan segenap sumberdaya demi perbaikan nasib dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Melihat amat pentingnya tugas itu, Menteri Agama mengingatkan bahwa pada setiap diri Aparatur Kementerian Agama melekat beberapa misi yang saling terkait. Misi itu antara lain: mengayomi bangsa dengan bimbingan kehidupan beragama yang berkualitas, melebarkan akses pendidikan agama dan keagamaan yang bermutu, memberikan pelayanan keagamaan sesuai kebutuhan, serta menjaga kerukunan hidup antarumat beragama.

Menteri Agama menekankan bahwa ASN Kementerian Agama tidak boleh lagi bekerja dengan kacamata kuda yang minim kepedulian terhadap sekitar. "Dengarlah aspirasi dari berbagai arah agar kita dapat mencapai target kinerja sekaligus memenuhi harapan publik. Kemudian, marilah kita latih kepekaan agar lebih memahami persoalan riil di masyarakat sehingga dapat menentukan prioritas kerja."

Tentang penggunaan anggaran, Menteri berpesan agar fokus perhatian tidak hanya sekadar menyerap anggaran secara maksimal tiap tahun. Penyerapan anggaran harus diselaraskan dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat, karena sarana dan anggaran yang dipakai untuk bekerja melayani masyarakat adalah hak rakyat.

"Di sisi lain, kita juga harus giat berinovasi agar lembaga kita terasa kekinian, jangan sampai dianggap seperti mesin tua yang usang," ungkap Menteri.

Di usianya yang ke-72, Kementerian Agama sukses menorehkan sejumlah prestasi. Di bidang tata kelola, mendapat opini hasil audit BPK dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan kenaikan indeks reformasi birokrasi. Kementerian Agama juga dinilai sebagai penyumbang PNBP terbesar, pelapor LHKPN terbanyak serta beberapa penghargaan lainnya, diantaranya dari Komisi Pemberantasan Korupsi.

Penghargaan-penghargaan yang telah diraih, menurut Menteri, membuktikan bahwa Aparat Kementerian Agama telah mampu bertransformasi melalui sistem yang baik, namun juga perlu diimbangi dengan perubahan mental, cara berpikir, dan budaya kerja yang baik.

Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-72 Tahun 2018 mengambil tema Tebarkan Kedamaian. Tema ini dipilih karena pada hakikatnya agama berfungsi menyemai kebaikan dan menebar kedamaian. Kedamaian adalah pesan universal semua agama kepada umat manusia. Kedamaian akan membawa kebahagiaan. Kedamaian adalah jalan menuju kesejahteraan dan kemajuan. Kedamaian adalah pintu maslahat bersama. Dan hanya dengan hati yang damai, sanubari kita merasakan kasih sayang Tuhan yang hakiki.

"Karena itu, saya mengajak seluruh ASN Kementerian Agama dan semua komponen umat beragama di Tanah Air agar bersama-sama menjadi Duta Penebar Kedamaian. Marilah kita buktikan bahwa agama sesungguhnya membawa angin kesejukan yang menenteramkan. Dalam damai akan tercipta negeri yang tenteram dan sejahtera.

Pesan kedamaian ini terasa penting untuk digaungkan agar seluruh masyarakat tidak terjerembab dalam kubangan perseteruan dan jebakan permainan atas nama agama.

"Kalaulah belum sanggup mengatasi pertentangan dengan seruan damai, setidaknya marilah mendamaikan diri sendiri dari nafsu angkara murka, syak wasangka, tingkah yang pandir, sifat-sifat batil, ataupun tangan yang jahil," tegas Menteri.

(Joice)

Berita Lainnya
Kamis, 3 Agustus 2017, 11:12

Kemeriahan Misa Pembukaan AYD 2017: Yesus Mencintai Kamu

Senin, 27 Februari 2017, 09:26

Program Strategis Kemenag Harus Memberi Solusi Terhadap Penanganan Isu Aktual Umat Beragama

Jumat, 27 Januari 2017, 16:01

HAB ke-71: DITJENBIMAS Katolik Raih 11 Piala dan Juara Umum III

Senin, 23 Januari 2017, 08:20

Gerak Jalan Kerukunan: Umat Katolik Bersatu dalam Keberagaman

Jumat, 20 Januari 2017, 10:27

Dari Lomba Catur: Persembahan dari Hati