Selasa, 6 Februari 2018, 13:14

Dirjen Bimas Katolik: Anggaran 20% APBN, Seperti Apa Kualitas SDM Kita?

Jakarta, DBKat--Seperti apa kualitas SDM kita dewasa ini yang merupakan hasil penyelenggaraan pendidikan yang secara konstitusional menggunakan 20 persen APBN? Pertanyaan itu diajukan Dirjen Bimas Katolik, Eusabius Binsasi di Jakarta, Senin (5/2/) ketika membuka Rapat Koordinasi Pejabat Bimas Katolik Pusat dan Daerah sebagai persiapan Ujian sekolah Berstandar Nasional (USBN) Pendidikan Agama Katolik 2018.

"Tanggung jawab kita adalah mencerdaskan bangsa, dalam hal ini kita mencerdaskan anak didik masyarakat Katolik. Sudah seperti apa kualitas SDM masyarakat Katolik secara internal? Padahal Pemerintah sudah menganggarkan dana pendidikan nasional sebesar 20 persen dari APBN. Ini patut kita refleksikan, ini perlu dievaluasi," kata Eusabius dalam sambutannyadi depan para Kepala Bidang dan Pembimas Katolik se-Indonesia dalam kegiatan Rapat Koordinasi Pejabat Bimas Katolik Pusat dan Daerah dalam rangka Persiapan USBNdi Jakarta yang berlangsung tanggal 5-7 Februari 2018.

Eusabius Binsasi juga menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi sampai sekarang. Menurutnya, ada beberapa persoalan dalam penyelenggaraan pendidikan agama Katolik, seperti masalah bahan buku ajar Pendidikan Katolik, pendidikan agama bagi anak didik Katolik di sekolah umum yang tidak ada guru agama Katoliknya, dan soal ujian agama Katolik bagi peserta didik Katolik, serta aneka persoalan teknis lainnya. Sebagai contoh, ada buku bahan ajar pendidikan agama Katolik disusun oleh Gereja Katolik dalam hal ini komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia, lalu buku itu harus dinyatakan layak digunakan secara nasional oleh BSNP, ada permintaan buku tersebut dimasukkan e-katalog, lalu bagaimana buku tersebut didistribusikan ke daerah? Masalah lain adalah belum maksimalnya praktik pemberian pelajaran agama di luar sekolah, seperti pada lembaga agama Katolik seperti paroki. Siapa yang memulai, lalu operasionalnya seperti apa? Apakah Kementerian Agama yang memulai? Lalu guru agamanya siapa?

Untuk itu, lanjutnya, para pejabat Bimas Katolik harus bekerja sama dan bersinergi dengan Gereja Katolik dan semua pihak terkait, seperti Dinas Pendidikan setempat, agar kualitas pendidikan agama Katolik semakin baik. Pelaksanaan USBN yang sudah berlangsung sejak tahun 2017 ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk disukseskan dan perlu disamakan persepsi dalam penyelenggaraannya.

Menanggapi pernyataan Dirjen Bimas Katolik, Direktur Pendidikan Katolik Fransiskus Endang mengatakan bahwa pelaksanaan USBN tahun ini akan dikoordinasikan dengan baik dan memperhatikan catatan yang disampaikan Dirjen Bimas Katolik.

Ketua panitia, Yustina Srini menyampaikan bahwa tujuan rapat koordinasi ini adalah menyamakan persepsi dan sosialisasi terkait penyelenggaraan USBN Pendidikan Agama Katolik tahun 2018. USBN merupakan salah satu bagian penting dalam proses pendidikan, karena ikut menentukan kelulusan peserta didik.

(Pormadi)

Berita Lainnya
Selasa, 28 Agustus 2018, 07:38

Dirjen: Menjadi Guru, Tidak Boleh Berhenti Belajar!

Jumat, 20 Juli 2018, 12:27

Penilaian Angka Kredit dan Inpassing Dosen Perguruan Tinggi Agama Katolik

Kamis, 22 Maret 2018, 08:08

Penilaian Angka Kredit dan Inpassing Dosen Perguruan Tinggi Agama Katolik

Rabu, 21 Februari 2018, 07:01

UASBN di SMAK St. Ignatius Timika Berjalan Lancar

Selasa, 5 Desember 2017, 15:37

Direktur Pendidikan Katolik Mengajak Pengawas PAK Berdialog Tentang Pancasila