Kamis, 29 Maret 2018, 10:17

Memasuki Masa Pensiun, Pegawai Harus Siap dan Tetap Produktif dengan Sukacita

Bogor, DBKat--Salah satu hak Pegawai Negeri Sipil berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara pasal 21 adalah memperoleh jaminan pensiun. Pensiun adalah masa dimana pegawai tidak lagi aktif bekerja dalam instansi tertentu. Tidak aktif bekerja, bukan berarti berdiam diri dan tidak mau berkontribusi lagi dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi pensiun seharusnya dimaknai sebagai berkarya di lingkungan baru dan tetap memberikan kontribusi secara positif.

Dalam memasuki masa pensiun disikapi beragam oleh setiap pegawai. Ada yang merasa cemas karena merasa belum siap dalam banyak aspek, baik aspek psikologi, aspek ekonomi dan materi maupun aspek sosial. Tetapi ada juga yang menyikapi hal tersebut dengan rasa optimis sehingga mampu mengaktulisasikan diri dalam kehidupan sehingga menjadi semakin baik dan berkualitas.

Beragam reaksi dan respon disebabkan adanya perbedaan latar belakang pemikiran dan persepsi tentang masa pensiun. Ketiadaan aktivitas, yang dulunya produktif dan penuh inovatif mungkin akan menjadi 'mandul berkarya' atau mungkin 'mandul berpikir' setelah pensiun. Karena itu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik merasa perlu untuk melakukan pembinaan pegawai menjelang pensiun dalam Kegiatan yang bertajuk Pembinaan Pegawai dalam Memasuki Masa Pensiun yang diikuti oleh sejumlah pegawai Ditjen Bimas Katolik yang akan memasuki usia pensiun, tanggal 26 s.d. 29 Maret 2018 di Bogor. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang relatif benar tentang pemaknaan masa pensiun dan berbagai hal yang akan dihadapi.

Dalam sambutan pembukanya yang disampaikan di depan peserta kegiatan, Senin (26/3), Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi mengungkapkan adanya pandangan di masyarakat bahwa setelah seseorang memasuki masa pensiun dianggap sebagai 'laskar yang tidak berguna'. "Pandangan ini salah, karena seorang pensiun dapat selalu terus aktif dalam kehidupan menggereja, berbangsa dan bernegara," ungkapnya.

Eusabius memotivasi peserta untuk selalu menumbuhkan kepercayaan diri dan merasa tetap berguna saat memasuki masa pensiun untuk menghilangkan tekanan psikologi. Pegawai juga tidak lupa untuk selalu menjadi duta kedamaian di tengah masyarakat. "Sesuai dengan tema HAB Kementerian Agama Tahun 2018 yaitu Tebarkan Kedamaian, maka diharapkan Pegawai Ditjen Bimas Katolik untuk melaksanakan hal ini dengan baik. Dimulai dengan berdamai dengan diri sendiri untuk selanjutnya keluar membawa kedamaian kepada orang lain."

Terkait dengan materi Kewirausahaan yang akan diberikan, Dirjen Bimas Katolik berpesan agar pegawai memahami potensi diri untuk mengubah sesuatu yang sederhana menjadi yang lebih berguna, bukan soal bisnis tetapi sukacita dalam melakukan hal itu. Kerja bukan saja untuk mencari nafkah, tetapi lebih pada cara mengaktualkan diri dengan memberikan sukacita.

Di akhir sambutannya, Eusabius berharap kegiatan ini bisa mengubahmindset yang positif kepada peserta dalam memasuki masa pensiun.

(Bhetania Bahar Barani)

Berita Lainnya
Minggu, 8 Juli 2018, 17:22

Dirjen: Rencana Kerja dan Anggaran Harus Fokus Pada Peningkatan Pelayanan Kepada Masyarakat Katolik

Selasa, 13 Februari 2018, 19:47

Perlu Kajian Kegiatan yang Efektif, Efisien dan Akuntabel dalam Penyusunan Pagu

Selasa, 12 Desember 2017, 13:26

Mewujudkan Reformasi di Bidang Hukum

Jumat, 17 November 2017, 12:04

Menuju Pertanggungjawaban Keuangan yang Transparan dan Akuntabel

Minggu, 23 Juli 2017, 13:52

Penyusunan Program Perlu Skala Prioritas dan Fokus Pada Kebutuhan Masyarakat