Rabu, 25 Juli 2018, 12:17

Umat Katolik Berbicara Soal Kerukunan, Kedamaian dan Tahun Politik

Surabaya,DBKat--Umat Katolik dipanggil untuk menjadi duta kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat, serta menghadirkan diri sebagai pejuang kesejahteraan umum (bonum commune) terutama dalam menghadapi pesta demokrasi atau tahun politik dewasa ini. Hal ini mengemuka dalam Pertemuan Tokoh Agama Katolik Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik di Surbaya, Hari Minggu-Rabu (22- 25 Juli).

Menjadi Duta Kedamaian dan Kerukunan

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Eusabius Binsasi ketika membuka acara secara resmi, mengajak peserta agar membina hidup rukun ke dalam terlebih dahulu, lalu akan berdampak pada kerukunan ke luar. Dari dalam Gereja kita diutus ke luar untuk menjadi duta damai.

"Pada bagian akhir Perayaan Ekaristi, umat Katolik selalu diutus menjadi pembawa kedamaian dan kerukunan. Umat Katolik harus menunjukkan eksistensi diri sebagai pembawa kedamaian dan kesejahteraan umum dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika," ungkapnya.

Perbedaan adalah Kekuatan

Pada pertemuan tersebut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah Provinsi Jawa Timur, Syamsul Bahri. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perbedaan adalah kekuatan. Untuk itu, Syamsul Bahri mengusulkan kepada Dirjen, agar diperbanyak kegiatan lintas agama sehingga saling mengenal, saling menghormati dan saling tolong menolong, misalnya kegiatan kemah lintas agama sebagaimana pernah diwujudkan di Provinsi Jawa Timur.

Panitia pelaksana menghadirkan beberapa narasumber dengan tema sesuai bidangnya, baik dari unsur Pemerintah, Akademisi, dan unsur Gereja Katolik. Pelaksana Tugas Direktur Urusan Agama Katolik, Benediktus Haro dalam pemaparannya menerangkan bahwa kehadiran pemerintah dalam Gereja Katolik salah satunya adalah keberadaan Ditjen Bimas Katolik. Kehadiran Bimas Katolik adalah untuk memfasilitasi masyarakat Katolik dengan bermitra/bersinergi dengan lembaga Gereja Katolik agar menjadi pemeluk agama yang baik, hidup rukun dan damai.

Sikap Gereja Katolik

Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Eko Budi Susilo memaparkan materi Sikap dan Pandangan Gereja Katolik tentang Dialog dan Kerukunan Umat Beragama. Romo Eko, panggilan akrabnya, seraya mengutip Dokumen Konsili Vatikan II, Nostra Aetate, menegaskan bahwa Gereja Katolik menghargai perbedaan agama dan mengakui ada kebenaran di luar agama Katolik. Untuk itu, umat Katolik diajak menghormati dan menghargai pemeluk agama lain, karena sama-sama berasal dari Allah dan kembali menuju Allah.

Manajemen Umat, Pemeliharaan Jiwa-Jiwa

Dari Keuskupan Malang, hadir Alfonsus Krismiyanto sebagai narasumber tentang bagaimana Manajemen Umat Katolik dan seperti apa ruang kerja sama dengan Bimas Katolik. Romo Alfonsus Krismiyanto, yang menjabat sebagai Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Malang menerangkan bahwa manajemen umat atau reksa pastoral Gereja Katolik merupakan soal pemeliharaan jiwa-jiwa. Untuk itu, Gereja Katolik dapat bermitra atau bersinergi dengan Pemerintah tanpa melanggar otonomitas masing-masing, termasuk Bimas Katolik Kementerian Agama. Adapun ruang kerja sama melalui pembangunan di bidang urusan agama dan pendidikan Katolik.

Relasi Kasih yang Menyembuhkan

Selain itu hadir juga narasumber dari Jakarta, Fidelis Waruwu, psikolog dan pengajar di salah satu universitas di Jakarta dengan tema Membangun Relasi Persaudaraan yang Positif dan Menyembuhkan. Menurutnya, membangun relasi yang positif dan menyembuhkan merupakan hal esensial (mendasar) dalam menciptakan kehidupan yang rukun dan damai baik internal maupun eksternal. Fidelis mengajak peserta untuk mulai membangun relasi kasih yang menyembuhkan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas Gereja dan di tengah masyarakat. Dalam relasi kasih yang menyembuhkan, semua orang atau anggota komunitas harus merasa aman, bernilai, berharga dan dipahami.

Orang Katolik Harus Ikut Berpolitik

Romo Benny Susetyo yang terpilih menjadi anggota satuan tugas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memaparkan tentang Sikap Politik Katolik di Tahun Politik dan Strategi Pembangunan Dialog Kerukunan Umat Beragama. Romo Benny menegaskan bahwa pada hakikatnya politik itu adalah menghadirkan Kerajaan Allah. Dewasa ini politik dikuasai pasar. Untuk kita harus itu harus realistis dan rasional. Kita harus memilih yang terbaik di antara terburuk. Ini menuntut peran umat Katolik agar cerdas dan bijaksana menyalurkan suaranya. Selain itu, kaum awam harus kreatif dan inovatif dalam mewujudkan keterlibatannya dalam dunia politik mulai dari yang terkecil di lingkungan RT/RW sampai tingkat parlemen, antara lain melalui penyediaan sumber daya manusia berkualitas. Kaum minoritas harus menampilkan kualitas SDM agar bisa ajur-ajer dan memperjuangkan kesejahteraan umum.

Lebih lanjut, Romo Benny mengatakan bahwa cara beragama kita perlu dilihat ulang. Cara beragama yang sehat tidak cukup hanya menyangkut acara ritual di antara tempat dinding rumah ibadah saja, tetapi perlu diimplementasikan dalam realasinya di tengah-tengah agama lain. Cara kita beragama harus dikembalikan dalam realitas sosial.Bila engkau masih melakukan korupsi, kolusi, ataupun nepotisme, selesaikanlah lebih dahulu, baru merayakan ibadat.

Pertemuan ini menghasilkan beberapa rekomendasi kepada pihak terkait tentang perlunya upaya peningkatan pembangunan bidang agama Katolik, khususnya peningkatan kualitas pemahaman ajaran agama melalui pemberdayaan penyuluh agama Katolik/Katekis, dan guru agama Katolik baik PNS maupun Non PNS, fasilitas sarana prasarana keagamaan Katolik dan fasilitas untuk peningkatan kualitas kerukunan internal dan eksternal. (Pormadi)

Berita Lainnya
Jumat, 14 September 2018, 11:00

Membuka Pertemuan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Katolik, Menag Tekankan Sisi Esoteris Agama

Kamis, 23 Agustus 2018, 09:37

Direktorat Urusan Agama Katolik Siap Bekerja High Speed

Senin, 30 Juli 2018, 08:36

Dilantik Menteri Agama RI, Dr. Aloma Sarumaha, M.A., M.Si Resmi Menjabat Direktur Urusan Agama Katolik

Minggu, 11 Maret 2018, 09:36

Sihar Petrus Simbolon: Rakornas Ini Bersejarah dan Monumental

Minggu, 11 Maret 2018, 09:13

Menyambut PESPARANI Katolik 2018, Meliala Ingatkan Hati-Hati Menggunakan APBN