Senin, 20 Agustus 2018, 15:02

Mgr. Suharyo: Kemerdekaan adalah Pembebasan dari Kepentingan Sesaat dan Sempit

Jakarta, DBKat--Keuskupan TNI/POLRI hari ini, Senin (20/08) merayakan HUT Kemerdekaan RI dengan mengadakan Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta.

Uskup Keuskupan TNI/POLRI yang juga Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo mengungkapkan kegembiraannya karena hadir memeriahkan Perayaan Ekaristi kali ini Uskup Militer Italia Mgr. Santo Marciano bersama dua Pastor Pendamping yaitu Pastor Domenico Morabito, Pastor Santo Batagli yang sebelumnya telah disambut dengan tarian Ngada, Jai Lambago di halaman Gereja Katedral Jakarta.

Dalam homilinya, Mgr. Suharyo menyampaikan bahwa HUT RI ke-73 sangat meriah. "Hampir semua Paroki di keuskupan Agung Jakarta melakukan upacara bendera. Sesuatu yang sangat menarik. Bahkan ada yang mengusahakan Kampung Bhinneka dan Kampung Pancasila. Simbol ke-Bhinnekaan dilambangkan bermacam-macam pakaian adat daerah."

Mgr. Suharyo juga mengapresiasi viralnya video Joni, anak SMP yang memperjuangkan tetap kibarnya Bendera Merah Putih dengan memanjat tiang yang sangat tinggi. "Begitu banyak tafsiran atas kejadian ini, tapi semuanya tafsiran baik. Ini menandakan kemerdekaan butuh kerelaan dan ketulusan."

Monsinyur juga mengutip jajak pendapat Harian Kompas hari ini yang menghasilkan 99,2% responden setuju bahwa perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia meningkatkan kecintaan terhadap bangsa. Angka 99.2% ini, menurut Monsinyur, adalah angka penghiburan di tengah situasi bangsa saat ini. "Ini membuktikan bertambahnya cinta kita kepada Tanah Air."

Bangsa Indonesia saat ini terus berusaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan secara serius dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Kemerdekaan sesungguhnya lanjut Monsinyur adalah kemerdekaan batin, pikiran dan jiwa. Kemerdekaan juga adalah pembebasan dari kepentingan sesaat dan sempit dan terus berjuang untuk kebaikan bersama.

Sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia diawali dengan Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Kemudian menemukan simbol berikutnya pada peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang secara tegas menyatakan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Pada akhirnya bermuara pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

"Dalam proses sejarah bangsa, amat jelas kemerdekaan jiwa menguasai para pendiri bangsa kita, karena mereka mengedepankan persatuan," ungkap Monsinyur. "Kemerdekaan batin adalah karya agung Tuhan yang harus kita syukuri," lanjutnya.

Selanjutnya Monsinyur bicara tentang tantangan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini dalam merawat kemerdekaan. "Perbedaan tidak jarang dieksploitasi untuk kepentingan yang tidak mulia. Nafsu kekuasaan dan korupsi adalah tanda melemahnya kemerdekaan batin. Hal ini menantang kita untuk berjuang mengangkat nama baik bangsa."

Monsinyur berharap umat dan para pemimpin bangsa ini terus mencari inspirasi dan kekuatan batin untuk merawat kemerdekaan batin sebagai Warga negara Indonesia dan menumbuhkan sikap arif dan lebih berkhidmat.

Hadir pada perayaan Ekaristi ini Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsai beserta Ibu, Direktur Urusan Agama Katolik Aloma Sarumaha, Kasubdit Kelembagaan FX. Rudy Andrianto, Kasubdit Pemberdayaan Umat Benediktus Haro serta umat Keuskupan TNI/POLRI.

Beberapa dokumen foto:

Berita Lainnya
Senin, 20 Agustus 2018, 15:34

Workshop Penulisan Karya Tulis Ilmiah Guru Tingkat Sekolah Dasar dan Menengah Kabupaten Gunungkidul

Kamis, 16 Agustus 2018, 09:59

Memanfaatkan HP Android Untuk Menyusun Media Pembelajaran

Jumat, 4 Mei 2018, 16:14

Pembinaan Iman PNS, TNI, POLRI, BUMN dan BUMD D.I. Yogyakarta, Romo Wegig: Setia Pada Tugas Yang Dipercayakan

Kamis, 4 Januari 2018, 15:16

Maluku Kembali Tegaskan Siap Jadi Tuan Rumah PESPARANI Katolik Nasional Pertama

Sabtu, 30 Desember 2017, 13:31

Pesan Natal 2017 Presiden Joko Widodo