Kamis, 23 Agustus 2018, 09:37

Direktorat Urusan Agama Katolik Siap Bekerja High Speed

Jakarta,DBKat--Direktorat Urusan Agama (Ditura) Katolik resmi mendapat Direktur baru setelah Dr. Aloma Sarumaha, M.A., M.Si dilantik Menteri Agama RI pada Jumat, 27 Juli 2018 yang lalu. Hari Senin, 21 Agustus 2018 untuk pertama kalinya Direktur menyampaikan arahannya kepada Pejabat Eselon III, IV dan JFU di Lingkungan Ditura Katolik.

Membuka arahannya, Direktur menyampaikan permohonan maaf karena setelah dilantik belum bisa langsung menempati ruang Direktur di lantai 13 Kantor Kementerian Agama Jalan Thamrin, karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Direktur menyampaikan bebrapa point penting yang menjadi acuan kerja Ditura Katolik. Hal yang pertama disampaikan adalah semua Pejabat dan Staf yang ada di Direktorat Urusan Agama Katolik adalah orang-orang sangat penting untuk eksisnya Ditura Katolik. Karena itu, semua harus bekerja high speed. Selanjutnya Direktur juga menggarisbawahi pentingnya kondusivitas lingkungan kerja dengan tidak membenturkan berbagai hal, termasuk etnis.

"Kita akan bekerja dengan high speed dan profesional. Jauhi pikiran yang nyerempet dan dapat dimaknai sebagai membenturkan berbagai hal, termasuk etnis," ungkapnya.

Sedangkan, hal-hal khusus yang dibicarakan adalah pentingnya kompetensi semua Staf dalam penyelenggaraan Urusan Agama Katolik. "Kita anut profesionalitas dalam 4 aspek yaitu SDM, regulasi, sarana prasarana dan budget. Kerja keras dan cepat."

Direktur minta tiap individu kenali kembali bidang keilmuan yang pernah digeluti pada level mana pun. "Hidupkan ilmu yang sudah digumuli itu dengan cara baca berita berkembang. Apa yang dibaca atau dipahami tuangkan dalam tulisan. Norma sosial tetap harus dijunjung tinggi."

Setiap individu harus mampu mengekspresikan kemampuan dengan penuh percaya diri, kerja tanpa tekanan dari mana pun. Karena itu, Direktur berpesan agar kesehatan fisik, psikologis dan sosial tetap dipelihara dan dipertahankan.

"Anda akan dinilai dari bagaimana anda berpikir mengenai sesuatu hal, bagaimana anda menyikapi sesuatu, bagaimana anda berperilaku. Berdebat dengan konsep, tidak debat kusir," lanjutnya.

Semua Staf diminta membaca PMA 42/2016 dan rancang bangun hal yang dianggap dapat membangun dan mengembangkan Urusan Agama Katolik. Bentuknya adalah konsep.

"Jauhkan pikiran bahwa sudah tua. Tua itu urusan kalender. Tiap individu harus mampu membuat sambutan," tegas Direktur.

Beberapa hal mendesak yang harus diselesaikan adalah menyusun Pedoman Penyelenggaraan Urusan Agama Katolik. Selain itu para Kasubdit diminta cermati RKA-K/L 2019 dan setiap Jumat, akhir pekan memantau pelaksanaan SKP tiap pegawai.

Disiplin juga menjadi catatan penting dari Direktur. "Jam 07.30-16.00/16.30, tiap pegawai di ruangan. Kecuali jam 12.00-13.00 atau waktu Jumat. Ruangan harus bersih dari efek asap, termasuk di tangga. Pada jam kerja, tidak ada yang merokok di tangga," tegasnya.

Selain menyusun Pedoman Penyelenggaraan Urusan Agama Katolik, hal mendesak lainnya adalah fokus persiapan PESPARANI. "Persiapan-persiapan dimatangkan. Ikuti mekanisme yang berlaku. Penggunaan anggaraan harus cermat sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam hal bantuan ke LP3KN pembukuannya harus efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Administrasi dan Laporan Keuangan kegiatan umum dan pesparani harus bersih!"

Pembuatan Laporan setelah mengikuti kegiatan juga menjadi catatan Direktur. Staf diminta memberitahu atasannya jika mengikuti kegiatan lintas tusi.

Menutup arahannya, Direktur menyampaikan peran Pejabat dan Staf di Lingkungan Ditura sangat penting. Kepercayaan yang diberikan pun juga penuh. Karena itu, jauhi hal-hal yang membuat kepercayaan itu berkurang. Kerja sama, komitmen dan integritas dipertahankan.

Dalam sesi diskusi, berbagai tanggapan diberikan oleh peserta rapat. Salah satu yang mengemuka adalah adanya keseimbangan antara punishment dan reward. Demikian juga terkait keseimbangan dalam hal saling menghargai, seperti Staf harus tahu kemana pimpinannya pergi, demikian juga Staf harus izin jika akan pergi kemana-mana.

Menanggapi hal tersebut, Direktur menyatakan bahwa Direktur bertanggung jawab penuh terhadap semua Staf yang ada di Ditura pada jam kerja.

Hal lain juga yang diusulkan adalah pertemuan khusus membicarakan SKP, agar lebih paham dan terkoordinir dengan baik. Atas pertanyaan soal bolehkah Staf langsung menyampaikan sesuatu kepada Direktur dan tata caranya, Direktur berpendapat, siapa pun boleh menghadap Direktur, tetapi harus lihat kepentingannya. Jika bisa dibicarakan dengan atasan langsung, silakan, "tetapi jika sudah alot dan menemukan jalan buntu, Direktur siap membantu."

*Subbag Sisfo

Berita Lainnya
Jumat, 14 September 2018, 11:00

Membuka Pertemuan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Katolik, Menag Tekankan Sisi Esoteris Agama

Senin, 30 Juli 2018, 08:36

Dilantik Menteri Agama RI, Dr. Aloma Sarumaha, M.A., M.Si Resmi Menjabat Direktur Urusan Agama Katolik

Rabu, 25 Juli 2018, 12:17

Umat Katolik Berbicara Soal Kerukunan, Kedamaian dan Tahun Politik

Minggu, 11 Maret 2018, 09:36

Sihar Petrus Simbolon: Rakornas Ini Bersejarah dan Monumental

Minggu, 11 Maret 2018, 09:13

Menyambut PESPARANI Katolik 2018, Meliala Ingatkan Hati-Hati Menggunakan APBN