Jumat, 14 September 2018, 11:00

Membuka Pertemuan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Katolik, Menag Tekankan Sisi Esoteris Agama

Jakarta, DBKat--Jalan menuju terciptanya harmonisasi sosial demi tegaknya NKRI bisa dilakukan dengan berbagai cara. Direktorat Urusan Agama Katolik mengambil langkah strategis dengan menghimpun tokoh agama dan tokoh masyarakat Katolik dalam sebuah acara berskala Nasional yang diberi tema Tebarkan Kedamaian dan subtema Merawat Kebangsaan.

Kegiatan yang dihadiri 90tokoh agama dan tokoh masyarakat se-Indonesia ini, dibuka resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Merlynn Park Hotel, Jakarta, Kamis (13/09).

Direktur Urusan Agama Katolik, Aloma Sarumaha, dalam laporannya menyampaikan tujuan kegiatan ini meningkatkan peran tokoh masyarakat dan tokoh agama Katolik dalam mensosialisasikan nilai keagamaan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu tokoh agama dan tokoh meningkatkan perannya dalam masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial, membangun sinergitas untuk menyukseskan pembangunan nasional, dan yang tidak kalah penting menghasilkan masukan untuk program kerja Kementerian Agama.

"Ada silogisme dimana manusia dibagi menjadi tiga bagian: kepala, badan dan kaki. Jika format ini dibawa ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka ada kepala yang berpikir, badan mengorganisir dan kaki yang bertindak untuk menuju kepada yang baik dan benar," ungkap Direktur.

"Hasil dari pertemuan ini akan menjadi masukan bagi program kerja Kementerian Agama dan untuk gereja, yang selanjutnya disosialisasikan dan diinternalisasi melalui pesan-pesan yang dihasilkan," lanjutnya.

Sementara itu, Menteri Agama dalam sambutannya menekankan pentingnya sisi esoteris (sisi dalam) agama karena pada hakikatnya manusia semua sama, tidak ada perbedaan.

"Sosiolog memilah agama menjadi dua, sisi esoteris dan sisi eksoteris. Dari sisi eksoteris, agama dipersepsi sebagai institusi, sebagai lembaga formal. Jika kita melihat dari perspektif ini, dalam agama itu sendiri kita temukan banyak sekali keragaman, misalnya dalam ritual keagamaan. Tetapi jika memandang agama dari sisi estoris, jangankan di dalam agama yang memiliki banyak penafsiran, antara satu agama dengan agama lain tidak kita temukan perbedaan. Esensinya sama. Kita bertemu pada titik yang sama, yakni menegakkan keadilan. Agama tidak membedakan status, semua agama melarang membunuh atau mencuri."

Menag mengapresiasi upaya Bimas Katolik mengedepankan dialog yang menghadirkan tokoh agama dan tokoh masyarakat Katolik. Menurut Menag, acara ini sangat strategis. Menag juga mengapresiasi tokoh agama dan tokoh masyarakat Katolik di bawah arahan KWI yang berperan aktif menebarkan ajaran agama Katolik untuk merawat ke-Indonesia-an.

Direktur Urusan Agama Katolik mengapresiasi kehadiran Menteri Agama yang disebutnya sebagai "Bapak Kita Bersama". Kehadiran Menteri Agama akan memberikan inspirasi bagaimana Negara hadir dalam kehidupan bermasyarakat untuk membangun, mempererat dan memperkokoh jalinanan sosial. Agama sebagai pintu masuk Negara, dan demikian sebaliknya.

Untuk mengakomodir berbagai isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat, panitia menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten di bidangnya. Direktur menyebut nama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang pada hari pertama menjadi Keynote Speech dan membuka kegiatan secara resmi. Narasumber lain, Yudi Latif, yang akan memberi pandangannya tentang Peran Tokoh Agama dalam Memperkuat Kerukunan Nasional. Dari Kepolisian Republik Indonesia, semula akan menghadirkan Kapolri Tito Karnavian, tetapi belum ada kepastian sampai kegiatan pembukaan dilaksanakan. Untuk Kapolri, Panitia menyiapkan topik Peran Kepolisian dalam menjaga Stabilitas Nasional Menjelang Pelaksanaan Demokrasi dan Deteksi Dini terhadap Berita Hoax, Kerawanan, Terorisme serta Tindakan Pencegahannya. Ke-dua Narasumber ini disatukan dalam Panel dengan topik "Harmoni Sosial".

Panel berikutnya dengan topik "Memperkuat Jati Diri Bangsa" akan menghadirkan RomoAdi Prasojo yang akan berbicara tentang Kita Berkhidmad Memperkuat Martabat Kebangsaan, Dr. Ali Taher yang berbicara tentang Etika Politik yang Bermoral sebagai Landasan Membangun Bangsa yang Bermartabat, dan Dr. Sony Suharso, SE., MM., P.Si yang membahas Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila.

(Bhetha, Joice)

Berita Lainnya
Kamis, 23 Agustus 2018, 09:37

Direktorat Urusan Agama Katolik Siap Bekerja High Speed

Senin, 30 Juli 2018, 08:36

Dilantik Menteri Agama RI, Dr. Aloma Sarumaha, M.A., M.Si Resmi Menjabat Direktur Urusan Agama Katolik

Rabu, 25 Juli 2018, 12:17

Umat Katolik Berbicara Soal Kerukunan, Kedamaian dan Tahun Politik

Minggu, 11 Maret 2018, 09:36

Sihar Petrus Simbolon: Rakornas Ini Bersejarah dan Monumental

Minggu, 11 Maret 2018, 09:13

Menyambut PESPARANI Katolik 2018, Meliala Ingatkan Hati-Hati Menggunakan APBN