Jumat, 14 September 2018, 11:14

Tentang Mengimani Ajaran Agama, Menag: Boleh Fanatik, Tapi Jangan Berlebihan

Jakarta, DBKat--Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hadir membuka pertemuan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Katolik Tingkat Nasional yang digagas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik. Bicara tentang agama, Menag mengajak peserta pertemuan untuk mensyukuri perjuangan para pendahulu bangsa yang dengan penuh keadilan telah meletakkan agama pada posisi yang berharga.

"Saya ingin garisbawahi, inilah warisan pendahulu kita yang telah menempatkan nilai-nilai agama yang merangkul, sehingga kita tetap utuh."

"Kita semua menjunjung tinggi nilai-nilai agama, apapun sukunya, dimanapun kita berada. Kalau kita telusuri kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di Negara kita, kita bisa lihat bahwa akarnya merujuk pada nilai-nilai agama. Tidak ada yang bertentangan dengan ajaran agama. Inilah kekhasan Indonesia, tidak kita temukan di Negara lain," tegas Menag.

Di banyak negara di dunia, lanjut Menag, ada dua model Negara, yakni Negara agama dalam bentuk formal dan atau Negara sekuler; terpisah sama sekali dari agama. Bersyukurlah Indonesia bukan dua-duanya.

"Kita, Indonesia, tidak dua-duanya. Indonesia bukan negara Islam meskipun jumlah umatnya banyak, dan Indonesia juga bukan negara sekuler. Indonesia telah meletakkan nilai agama pada posisi istimewa yang ikut menata kehidupan bersama. Nilai-nilai agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sejak lahir, ritual-ritual keagamaan sudah dilakukan sampai kita meninggal, bahkan sampai jauh setelah kita meninggal."

Yang menjadi problem saat ini, menurut Menag, adalah keterbatasan wawasan atau pengetahuan yang melihat agama dari sisi luarnya saja. Banyak orang beragama dengan fanatisme yang berlebihan yang bisa menimbulkan ekses negatif.

"Kita memang harus fanatik, harus mengimani ajaran agama kita dengan sungguh, tetapi jika berlebihan, akan menimbulkan ekses negatif. Ekses negatif itu seperti memaksa ajaran agama kita lebih baik, yang lain salah. Ini bisa memberangus toleransi," ungkap Menag.

Melihat situasi seperti ini, Menag mengajak semua pihak untuk mengembalikan agama pada sisi esotorisnya (sisi dalam) ketika kita berada di arena yang beragam, karena itulah jati diri bangsa kita. Kita boleh bicara sisi eksoteris (sisi luar) agama ketika kita berada di antara umat yang homogen.

"Tantangan bagi tokoh agama dan tokoh masyarakat saat ini adalah mengedukasi lingkungannya untuk mengedepankan sisi dalam dari agama itu."

Menag juga mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat Katolik untuk mengembangkan moderasi beragama. "Selain itu kita kembangkan moderasi beragama. Agama itu sudah moderat, tidak ekstrem. Agama ini datang dari Tuhan, yang Maha Sempurna. Problem sesungguhya bukan pada agamanya, tetapi pada cara kita beragama. Kemenag mengajak kita semua untuk mengembalikan agama pada jalur yang moderat."

Ekstremisme, lanjut Menag, lahir karena cara menerjemahkan teks agama yang tidak sesuai hakikatnya.

"Kitab Suci itu wujudnya teks, kita memahami agama dari teks. Ada yang sangat konservatif menerjemahkan teks, mengabaikan nalar. Ada juga yang terlalu liberal menerjemahkan teks Kitab Suci; mengagungkan nalar, mengabaikan teks itu sendiri."

Menag selanjutnya mengungkap pentingnya sinergitas negara dan agama.

"Negara dan agama tidak bisa dipisahkan. Negara membutuhkan agama, dan pemuka-pemuka agama membutuhkan nilai-nilai agama. Relasi antara agama dan negara harus check and balances. Penyelenggara negara perlu mengontrol tokoh-tokoh agama agar jalannya roda pemerintahan tidak menyimpang dari nilai-nilai agama. Tetapi, agamawan juga bisa eksesif bergerak tanpa kontrol. Tokoh-tokoh agama sangat hegemonik, karena itu negara berfungsi jadi penyeimbang.

Menag berharap pertemuan Tokoh agama dan tokoh masyarakat Katolik bisa memberikan sumbangsih, tidak hanya memelihara kerukunan, tetapi mengembangkannya. Tebarkan kedamaian dimanapun berada.

(Joice, Bheta)

Berita Lainnya
Kamis, 23 Agustus 2018, 09:37

Direktorat Urusan Agama Katolik Siap Bekerja High Speed

Senin, 30 Juli 2018, 08:36

Dilantik Menteri Agama RI, Dr. Aloma Sarumaha, M.A., M.Si Resmi Menjabat Direktur Urusan Agama Katolik

Rabu, 25 Juli 2018, 12:17

Umat Katolik Berbicara Soal Kerukunan, Kedamaian dan Tahun Politik

Minggu, 11 Maret 2018, 09:36

Sihar Petrus Simbolon: Rakornas Ini Bersejarah dan Monumental

Minggu, 11 Maret 2018, 09:13

Menyambut PESPARANI Katolik 2018, Meliala Ingatkan Hati-Hati Menggunakan APBN