Selasa, 7 Maret 2017, 14:45

MENYONGSONG PASKAH DENGAN PERTOBATAN

Sebuah Refleksi Teologis atas Sakramen Tobat

sebagai Sakramen Penyembuhan

Oleh: Bartholomeus Arosi

A. Pengantar

Sejak awal karya publik-Nya, Yesus mewartakan perlunya pertobatan untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah. Pengarang Injil Markus mencatat warta Yesus ini dalam bentuk imperatif: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" (Mrk 1:4); "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk 1:15b). Dengan pertobatan itu, orang akan memperoleh pengampunan dosa. Markus menghubungkan pengampunan dosa itu dengan soal penyembuhan.

Pertobatan adalah seruan yang harus selalu bergema dalam ajaran iman kristiani. Namun, praksis pertobatan itu acapkali belum mendapat gaung atau porsi yang signifikan di kalangan Gereja. Bahkan, makna pertobatan masih belum jelas bagi umat kristiani akhir-akhir ini. Padahal pertobatan sangat perlu mendapat porsi istimewa secara holistik dalam seluruh panggilan hidup kristiani. Pertobatan ini hanya mampu diraih manakala manusia memiliki kerinduan yang mendalam akan penyembuhan.

B. Refleksi Teologis atas Sakramen Tobat sebagai Sakramen Penyembuhan

Proses pencapaian persekutuan manusia dengan Allah kerap terhambat oleh berbagai bentuk godaan yang berawal dari pengingkaran dan pengakuan serta keraguan manusia terhadap eksistensi Allah di dalam dirinya. Sikap kontradiktif ini akhirnya melahirkan dosa. Akan tetapi, bentuk pengingkaran manusia ini tidak secara permanen dan definitif melekat di dalam dirinya bila manusia mau kembali kepada Allah melalui sebuah kesadaran akan keberdosaan dan keinginan yang kuat untuk berekonsiliasi dan ber-metanoia atas sikap dosa yang dilakukannya selama ini. 1 Yoh 1:8-10; 2:1 mengatakan: "Kalau kita mengakukan dosa-dosa kita, maka Dia yang adalah setia dan suci akan mengampuni dosa-dosa kita dan akan menyucikan kita dari setiap pencemaran." Dosa berdampak pada sulitnya manusia membangun kehidupan bersama dengan Allah.

Kehidupan bersama Allah terungkap dan berlangsung dalam pengalaman human secara faktual. Maka, secara teologis, dari pihak manusia sulit kembali kepada Allah manakala ia sulit menghayati hubungan yang baik dengan Allah. Dikatakan di sini "dari pihak manusia", sebab dari pihak Allah, Ia selalu baik, mengasihi dan mencintai manusia seutuhnya tanpa cela. Manusia yang menjadi penyebab putusnya hubungan dengan Allah. Manusia tidak menanggapi secara baik dan memadai tawaran damai dan kasih Allah itu. Indikasi ini tampak dalam ketertutupan diri seseorang terhadap mereka yang berkekurangan, teralienasi, menderita serta suka menindas dan mempersalahkan sesamanya. Sebuah pertanyaan reflektif, apabila semua indikasi tersebut terdapat di dalam diri seseorang, maka bagaimana ia bisa mengklaim bahwa hubungannya dengan Allah sangat harmonis? Menurut perspektif Kristiani, orang yang menutup diri terhadap mereka yang berkekurangan, teralienasi, menderita serta suka menindas dan mempersalahkan sesamanya tidak mungkin mencintai Allah. Bila orang mencintai Allah, maka ia tentu juga mengasihi sesamanya. Apabila orang mengasihi sesamanya, maka dia juga mengasihi Allah.

Betapa sulitnya manusia setia dan selalu mengasihi Allah. Manusia gampang tercebur ke dalam lumpur dosa. Manusia ingin hidup baik; mempunyai kehendak untuk memperbaiki diri agar hidup suci dan luhur. Akan tetapi, faktanya orang gampang sekali tidak setia kepada Tuhan. Orang mudah lupa berdoa, tidak bersyukur kepada Allah; mudah jatuh dalam dosa yang sama. Maka, benarlah kata-kata Yesus: "Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat 26:41). Hubungan manusia dengan Allah mudah renggang bukan karena Allah yang menyebabkannya; sebaliknya manusialah yang menjadi penyebabnya. Dosa dan keinginan daging manusia sering begitu kuat. Akibatnya, relasi manusia dengan Allah, sesama dan bahkan alam lingkungan menjadi rusak.

Selain itu, manusia juga rapuh oleh fisiknya. Manusia acapkali khawatir akan kesehatan raganya. Kekhawatiran ini diantisipasi oleh manusia dengan sikap-sikap defensif dan preventif dengan senantiasa menjaga kebugaran tubuhnya. Singkatnya, badan atau fisik manusia lemah. Di kala sakit fisik, jiwa dan rohani bisa terpengaruh. Orang yang sakit secara fisik bisa menjadi lemah dalam kehendak. Sakit fisik bisa melemahkan dan menggoyahkan iman dan hidup batin seseorang. Demikianlah manusia itu suatu pribadi yang kompleks karena memiliki aneka dimensi kehidupan yang integral, baik fisik, psikis dan rohaninya.

Terhadap situasi dasar manusia yang rapuh, lemah dan rentan terhadap penyakit fisik, psikis dan rohani itulah, Gereja memiliki sakramen rekonsiliasi. Sakramen ini disebut sakramen penyembuhan karena fungsinya adalah untuk menyembuhkan penyakit manusia dari sisi rohani atau psikis. Akan tetapi, Sakramen Tobat bukan pertama-tama dimengerti sebagai semacam obat yang sejajar dengan obat dari para dokter dari rumah sakit. Sakramen Tobat berhubungan dengan kehidupan iman dan batin seseorang. Sakramen Tobat berada dalam konteks kebersamaan manusia dengan Allah.

Sakramen Tobat merupakan sakramen yang ingin menjawab kerinduan manusia akan kehidupan bersama yang damai, sejahtera dan bahagia menurut unsurnya yang paling dalam, yaitu relasi manusia dengan Allah dan sesama. Harmonisnya kembali relasi atau hubungan manusia dengan Allah dan sesama serta alam lingkungan dirayakan dalam Sakramen Tobat. Apabila intisari penyakit batin seseorang ini sudah disembuhkan, dimana seseorang kembali menemukan kebersamaan yang baik dengan Allah dan sesamanya, maka orang tersebut diharapkan menjadi sehat kembali, baik secara lahir maupun batin.

Demikianlah Sakramen Tobat dapat dipahami sebagai: Sakramen Penyembuhan. Sakramen ini mau melambangkan dan menghadirkan karya penyelamatan dan penyembuhan yang dilakukan Allah melalui Kristus PuteraNya bagi manusia. Dengan menghadirkan karya Penebusan Yesus Kristus melalui Sakramen Tobat, hidup bersama yang dilukai oleh macam-macam dosa dapat disembuhkan dan dibangun kembali. Sakramen Tobat menyembuhkan kerenggangan hidup bersama Allah dan sesama yang disebabkan oleh penyakit rohani dan jiwa.

C.Penutup

Demi meningkatkan kualitas hidup kristiani yang lebih spiritual; dimana umat Katolik kembali dibawa kepada semangat rekonsiliasi dengan Allah dan sesama, maka sangat perlu meningkatkan semangat pertobatan. Upaya ini perlu supaya umat Katolik menemukan kembali jati diri mereka sebagai murid-murid Tuhan.

"Allah hadir dalam setiap orang yang percaya bahwa Ia akan hadir pada setiap orang yang mau bertobat kepadaNya. Kita harus mencari Dia dan menantikanNya untuk hadir dalam diri kita. Jika kita bosan menghayati hidup kita, maka kehadiran Allah tidak akan terjadi. Pertama-tama, kita harus mencari Dia; kemudian, kita pasti akan menemukanNya...."

Allah memang berinisiatif menjumpai manusia, namun manusia perlu juga menanggapi inisiatif Allah tersebut. Salah satu upaya manusia itu adalah lewat Sakramen Tobat. Akan tetapi, apakah Sakramen Tobat ini masih relevan bagi Umat Katolik? Semoga masa prapaskah ini menjadi momen strategis bagi kita untuk semakin menyadari diri sebagai orang berdosa dan serentak dengan itu, kita memiliki kerinduan yang mendalam untuk mau kembali ke pelukan Bapa (bdk Luk 15:1132).

Sumber Refleksi

Arnold, J. Heinrich. (2003). Discipleship: Merajut Hidup Menjadi Murid Kristus. Yogyakarta: Kanisius.

Chang, William. (2001). Pengantar Teologi Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Fuellenbach, John. (2006). Kerajaan Allah: Pesan Inti Ajaran Yesus bagi Dunia

Modern. Ende: Nusa Indah.

Gray, Tim. (2001). Sacraments in Scripture Salvation History Made Present.

Ohio: Emmaus Road Publishing Steubenville. Diterjemahkan oleh J. Waskito. (2007). Sakramen dalam Kitab Suci: Kehadiran Sejarah Keselamatan. Malang: Dioma.

Hadiwardoyo, Al. Purwa. (2007). Pertobatan dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta:

Kanisius.

Jacobs, Tom. (2000). Emanuel: Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus

Kristus. Yogyakarta: Kanisius.

----------. (2007). Syalom Salam Selamat. Yogyakarta: Kanisius.

Maas, Kees. (2013). Teologi Moral Tobat. Ende: Nusa Indah.

Martasudjita, Emanuel. (2003). Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis,

Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.

Neuner, J dan Dupuis, Jacques. (2004). The Christian Faith in the Doctrinal

Documents of the Catholic Church. Bangalore: Theological Publications.

Prasetya, L. (2003). Sakramen yang Menyelamatkan. Malang: Dioma.

Sujoko, Albertus. (2008). Praktek Sakramen Pertobatan dalam Gereja Katolik:

Tinjauan Historis, Dogmatis dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.

Penulis adalah: Alumnus Universitas Katolik St. Thomas Medan, Fakultas Filsafat dan Teologi St. Yohanes Pematangsiantar Sumatera Utara. Sekarang bertugas sebagai Penyuluh Agama Katolik pada Kementerian Agama Kota Pontianak; sekaligus juga Mahasiswa Program Pasca Sarjana Teologi Katolik pada Sekolah Tinggi Pastoral St. Agustinus Keuskupan Agung Pontianak-Kubu Raya, KALBAR.