BERITA

Friday, 06 December 2019 11:09 AM

Kegiatan Pembinaan Mental Pegawai Bimas Katolik Bersama Ketua Konferensi Waligereja Indonesia

Pegawai Bimas Katolik berfoto bersama Ketua KWI (Foto: DBK)

Jakarta (DBKat) -- "Pelayanan yang telah dilakukan Bimas Katolik sudah baik karena sesuai dengan aturan, tinggal dievaluasi terus menerus menjadi lebih baik dan menjadi cakrawala dalam pelayanan tugas bapak dan ibu sekalian," demikian ungkapan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Ignatius Suharyo dalam kegiatan Pembinaan Mental ASN Bimas Katolik, Selasa (3/12) di kantor Kementerian Agama - Jakarta.

Selain Pejabat Pusat, hadir pula Pembimbing Masyarakat Katolik dan staf Kemenag dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Sebelumnya, Sekretaris Ditjen Bimas Katolik, Aloma Sarumaha mengungkapkan, ini adalah pertemuan pertama dengan para pegawai Bimas Katolik sejak Uskup Agung Jakarta dikukuhkan menjadi Kardinal pada 5 Oktober 2019.  Sekretaris juga memaparkan tema kegiatan tersebut yakni 'Harapan Gereja Terhadap Pelayanan Bimas Katolik'. "Kami ingin mendapatkan peneguhan dari Bapa Kardinal supaya kami lebih guyub dan moderat dalam menjalankan tugas pelayanan kami, khususnya dalam memasuki tahun 2020 nanti," ungkap Sekretaris.

Membangun Kesadaran Moral

Tantangan yang dihadapi negeri ini, menurut Kardinal, adalah kesadaran moral yang telah terkikis sejak dua dekake terakhir. Fakta yang membuktikannya, yakni maraknya kasus korupsi yang dilakukan aparat pemerintah yang sejatinya menjadi teladan masyarakat yang dilayani.  Akibatnya, "Masyarakat mengalami kegamangan tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk, karena tabiat dari oknum pimpinan negara tersebut,"  papar Kardinal.

Sebenarnya hal ini pernah diingatkan Gereja (Hirarki) lewat  Surat Gembala KWI menjelang Paskah pada Tahun 1997. Kala itu Gereja secara terang mengungkapkan kecemasan dan keprihatinan atas peristiwa dan keadaan bangsa yang tergilas korupsi, kolusi, dan manipulasi. Hingga melewati tahun 2018 pun keprihatinan itu belum mereda. "Ini menjadi tantangan kita bersama, termasuk Bapak Ibu yang melayani di sektor Pemerintah, yang sepatutnya menjadi panutan umat," ungkap Kardinal.

Kardinal pun mencontohkan figur Paus Fransiskus sebagai contoh keteladanan yang layak ditiru. Kesejatian yang ditampilkan oleh Pemimpin Gereja Katolik itu, bersumber dari kesegaran asli Injil. Dunia pun takjub dengan kesahajaan Bapa Suci. Majalah Time dan Fortune pun menempatkannya sebagai tokoh dunia yang berpengaruh pada tahun 2014. Kardinal Suharyo meyakini, kemuliaan sikap dan cara hidup Paus terbentuk dari pengalaman rohani akan Allah.

Kardinal pun bercerita, bahwa pengalaman kerohanian Paus tentang kerahiman Allah, telah terpatri dalam dirinya sejak usia remaja. Penghayatan akan kemurahan Tuhan yang merasukinya sejak usia 17 tahun, berbuah pada transformasi pribadi hingga menjadi panduannya dalam memimpin tampuk kegembalaan. Transformasi  Paus, misalnya, mengumpamakan kehadiran Gereja ibarat rumah sakit di medan perang. "Gereja harus melayani siapa saja, termasuk yang menderita sakit. Itulah gambaran pelayanan yang sejati," ungkap Kardinal.  

Transformasi Institusi;  dari gagasan-tindakan-watak

Sebagai Uskup Agung Jakarta, Kardinal Suharyo juga juga mendaratkan pengalaman rohani yang membentuk transformasi peribadi, ke dalam arah dasar Keuskupan Agung Jakarta. Panduan ini mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai pedoman penghayatan iman Katolik sekaligus memupuk rasa cinta tanah air.

Nilai-nilai ini menjadi sumber dari gagasan yang menginspirasi tindakan atau gerakan bersama yang dilakukan secara terus-menerus hingga membentuk watak seseorang. "Dari transformasi pribadi dengan membangun kesadaran moral, berkembang pada transformasi institusi," tutur Kardinal. Beberapa hal telah dilakukan dalam lingkup keuskupan, diantaranya Rosario Merah-Putih dan Bunda Maria Segala Suku.

Rangkaian penjelasan itu menjadi peneguhan bahwa, setiap pribadi diajak untuk membangun gagasan yang bersumber pada moral yang baik, dilahirkan sebagai tindakan dengan komitmen bersama, sehingga menjadi watak pribadi yang berdampak pada transformasi intitusi.

Kardinal pun memberikan pemahaman tentang kerja. Menurutnya, dalam tingkatan terendah, bekerja adalah untuk mencari nafkah bagi pemenuhan kebutuhan hidup. Di level kedua, bekerja berarti mengaktualisasi kemampuan diri. Dan pada tingkat yang lebih tinggi, bekerja berarti mendatangkan Kerajaan Allah.

"Namun apapun yang kita lakukan lewat pekerjaan atau pelayanan kita, membentuk cakrawala panggilan kita, sebagai pegawai Pemerintah yang memiliki tanggungjawab terhadap umat Katolik," papar Kardinal.

Usai menyampaikan pemaparan, para pegawai Bimas Katolik juga diberi kesempatan berdialog dengan Bapa Kardinal, dengan panduan Sekretaris. Pertanyaan yang dilontarkan seputar penghayatan kerohanian iman Katolik, nomenklatur dalam Gereja Katolik, dan kemitraan antara Gereja-Pemerintah. Beberapa diantaranya juga menyoroti soal liturgi Gereja Katolik, yang biasanya dilakukan dalam perayaan Ekaristi.

Di akhir pertemuan, Sekretaris kembali menegaskan, pencerahan yang diterima oleh para karyawan/wati menjadi inspirasi bagi setiap pegawai untuk lebih guyub, moderat, dan tidak mengeluh dalam menjalankan tugas pelayanannya setiap hari.

Pembinaan mental ditutup dengan foto bersama Bapa Kardinal, dilanjutkan silaturahmi dalam kebersamaan yang penuh syukur. (Maria)

 

Dibaca
Today Visitor :1
Total Visitor : 179
Total Hits : 136.64K