BERITA

Wednesday, 04 March 2020 09:34 PM

“Terima Kasih Dirjen Bimas Katolik Atas Kehadiran SMAK di Distrik Edera Bade Papua”

Tim Pengawas Ujian SMAK berfoto bersama Kepala Sekolah dan Jajaran SMAK BadeSMAK

”Selamat datang ke Bade Papua. Kami sangat berterima kasih kepada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik yang sudah memberi perhatian besar  untuk meningkatkan kualitas anak Papua melalui pendidikan,” ujar Elias seorang tokoh masyarakat sekaligus Kepala Sekolah SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Santo Antonius Padua Bade Kabupaten Mappi Provinsi Papua yang mengungkapkan rasa bangganya di hadapan Tim utusan Ditjen Bimas Katolik dalam rangka monitoring Ujian Akhir Sekolah Menengah Agama Katolik  Berstandar Nasional di SMAK Santo Antonius Padua Bade. “SMAK ini berdiri karena umat Katolik Bade sangat membutuhkan hadirnya sebuah sekolah setingkat Sekolah Menengah Atas.  Ditjen Bimas Katolik cepat merespon keinginan umat melalui  Izin Operasional yang diberikan  Tahun 2017,” cerita Elias lebih lanjut. 

”Bade adalah sebuah Kelurahan di wilayah Distrik Edera (red; Kecamatan) Kabupaten Mappi Propinsi Papua. Bade termasuk daerah pedalaman Papua, dan butuh banyak waktu dan tenaga untuk sampai ke Bade,” timpal Pastor Lorens Imam Kongregasi OFM, yang turut menyambut Tim Monitoring.  Lebih lanjut Pastor Lorens yang juga seorang pembina dan pengajar SMAK Santo Antonius Padua menjelaskan, “Perjalanan ke Bade bisa melalui beberapa alternatif, bisa ditempuh jalan darat, udara, laut, atau sungai. Perjalanan darat dengan transportasi mobil yang terhubung dengan sungai melalui speed boat membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 13 jam dari Merauke. Sedangkan perjalanan dengan menggunakan kapal laut memakan waktu 18 jam dari Merauke. Sementara itu, perjalanan udara dengan menggunakan pesawat komersial Susi Air membutuhkan waktu tempuh 40 menit dengan jadwal penerbangan menyesuaikan kondisi cuaca setempat,”. Keterangan ini dimaklumi Alfa dan Jelfin, petugas monitoring Ujian Ditjen Bimas Katolik yang telah hadir di Bade.

Ujian Akhir Sekolah Menengah Agama Katolik Berstandar Nasional berlangsung selama dua hari dari tanggal 3 s.d. 4 Maret 2020 untuk 3 mata pelajaran yakni Kitab Suci, Liturgi,  Dogma Gereja Katolik dan Moral Kristiani diikuti 21 siswa. Para siswa menyiapkan diri dengan baik sehingga ujian dapat terlaksana dengan baik pula. “Kami senang dan bangga bisa mengikuti ujian perdana di SMAK ini, kami angkatan perdana”, ujar Modesta salah seorang siswa peserta ujian. “ Kami juga senang bisa menimba ilmu di SMAK ini  karena dengan demikian kami bisa mendapat banyak pengetahuan Agama Katolik,” ungkap Yusias  yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Merauke. Tak kalah semangat juga Vincensius dengan bangga berujar, “Kami mau jadi guru agama untuk melayani umat Katolik di Papua yang sangat minim guru Agama Katolik”.

Antusias siswa yang tinggi di tengah keterbatasan ini, mendorong Pastor Domi Djawa seorang Imam Kongregasi OFM sebagai pastor Pembina serta para guru yayasan bertekad untuk memajukan anak-anak Papua di wilayah Bade dalam hal pendidikan. “Kami memberi apa yang kami punya demi anak-anak (baca :siswa SMAK),” ujar Pastor Domi. “Kami serba terbatas dalam berbagai hal, tapi kami tetap semangat untuk maju.”  Bahkan anak anak kami tidak pungut biaya apapun , mereka sekolah gratis”, timpal Elias selaku kepala sekolah. Soal biaya operasional sekolah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Ditjen Bimas Katolik yang selalu hadir untuk kami sebagai simbol kehadiran Negara melalui dana bantuan yang kami terima, ditambah swadaya umat melalui derma,” ujar Elias.

Foto: Gedung Sekolah SMAK Bade

Lebih lanjut Elias dan Domi sama-sama sepakat mengungkapkan, “Atas nama Yayasan dan semua masyarakat Katolik Bade sangat berterima kasih kepada Pemerintah melalui Ditjen Bimas Katolik yang sudah hadir di tengah-tengah masyarakat dengan membangun fasilitas gedung sekolah, gedung perpustakaan, dan asrama. Perihal asrama menjadi salah satu kebutuhan penting  untuk para siswa yang rata-rata berasal dari kampung-kampung pedalaman”. Corry dan Vita guru pendamping asal Maurole dan Mbay Flores NTT  membagikan pengalamannya bahwa, “Kami kasihan melihat para siswa ini datang dari kampung–kampung dan tinggal di rumah-rumah penduduk untuk bisa mengenyam pendidikan di SMAK Santo Antonius Padua Bade. Dengan adanya asrama yang sudah dibangun oleh Pemerintah melalui Ditjen Bimas Katolik, anak-anak akan dididik dan dibina dengan baik. Kami sangat berterima kasih untuk perhatian Pemerintah”.

Pastor Domi dengan sangat yakin menjelaskan bahwa tahun ajaran baru yang akan datang jumlah siswa yang akan melamar pasti akan semakin banyak. “Kami sudah mendapat informasi dari para orang tua di kampung-kampung bahwa mereka pasti akan mengirim anaknya sekolah di SMAK Santo Antonius Padua karena, SMAK ini milik kami umat Katolik Bade”, ujar Pastor Domi menirukan umat. Dengan demikian kebutuhan penambahan ruang kelas memang sangat dibutuhkan. Saat ini hanya ada tiga ruang kelas. Seharusnya 6 ruang kelas. Sarana penunjang belajar juga sangat kami butuhkan ujar Pastor Domi yang disetujui oleh Elias selaku Kepala Sekolah. Ke depan, SMAK Santo Antonius Padua ini bisa berkembang maju dan menghasilkan generasi bangsa yang Pancasilais dan generasi Gereja yang sungguh-sungguh menghayati iman sebagai orang Katolik. (Alfa)

Dibaca
Today Visitor :1
Total Visitor : 179
Total Hits : 136.59K