BERITA

Monday, 01 July 2019 09:11 AM

Lima Nilai Budaya Kerja Kemenag: Sumber Pembinaan Karakter bagi Guru Pendidikan Agama Katolik Kab. Sleman

Ujiseminar Proyek Perubahan CB Ismulyadi

Sleman (DBKat)--Guru menyandang jabatan profesional. Predikat ini menegaskan bahwa guru adalah pendidik yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (bdk. UU RI No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 39 ayat 2).

Tuntutan profesionalitas yang diundangkan oleh Pemerintah selaras dengan seruan Gereja Katolik. Dokumen Gravissimum Educationis yang dicetuskan Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965 menyinggung hal tersebut, bahwa guru perlu mendapatkan bantuan untuk menemukan metode-metode pendidikan serta sistem pengajaran yang cocok, dan untuk pembinaan guru-guru yang mampu mendidik kaum muda seperti semestinya. Dokumen Gravissimum Educationis (GE) artikel 6 menyatakan:

Konsili suci mendorong umat beriman, supaya rela memberi bantuan untuk menemukan metode-metode pendidikan serta sitem pengajaran yang cocok, dan untuk pembinaan guru-guru yang mampu mendidik kaum muda seperti semestinya, begitu pula untuk dengan bantuan mereka – terutama melalui perserikatan orangtua – ikut menopang seluruh peranan sekolah dan terutama penyelenggaraan pendidikan moral.”

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa melalui tangan-tangan para guru di sekolah, peserta didik tidak hanya dibantu untuk berkembang dalam bidang intelektual tetapi juga untuk mengembangkan kepribadian agar mengenal dan semakin mengembangkan karakternya.

Menurut Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), guru pendidikan agama Katolik adalah tenaga profesional yang bertugas membantu orang tua murid dalam rangka membina iman anak. Tugas orang tua murid memberikan pendidikan dasar dan menjadi pendidik utama bagi anak-anak di dalam keluarga. Pendidikan yang diwariskan orang tua dan yang dikembangkan dalam keluarga haruslah pendidikan dalam arti yang menyeluruh, yang meliputi pendidikan fisik, kepribadian, intelektual, sosial, iman, dan moral.

Dalam ranah pendidikan nasional di Indonesia, salah satu kemampuan profesional yang harus dimiliki guru adalah menulis karya ilmiah maupun artikel populer. Namun demikian, guru pada umumnya mengalami kesulitan karena merasa belum memiliki wawasan dan keterampilan yang memadai. Dalam rangka menjawab tuntutan Pemerintah dan anjuran Gereja Katolik tentang cita-cita dan harapan pengembangan profesi bagi para guru di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, maka CB. Ismulyadi, SS. M.Hum., selaku Penyelenggara Bimas Katolik Kankemenag Kabupaten Sleman memfasilitasi/menjembatani kondisi nyata di lapangan dengan melakukan proyek perubahan dalam rangka Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan XXV yang diadakan Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Semarang Tahun 2019.

Proyek Perubahan dengan judul Pengembangan Kompetensi Penulisan KTI Melalui Pembelajaran Berbasis ‘Appreciative Inquiry’ Bagi Para Guru Pendidikan Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Sleman, telah diujiseminarkan pada Rabu, 26 Juni 2019 di Balai Diklat Keagamaan Semarang dengan menghadirkan Dra. H. Masfifah, MPd (moderator), Dr. H. Susari, MA (narasumber). Drs. H. Sa’ban Nuroni, MA. (mentor).

Doktor H. Susari, MA, selaku narasumber dan Kepala Balai Diklat Keagamaan Bandung mengatakan, “Pendekatan Appreciative Inquiry yang digunakan Project Leader dalam Proyek Perubahan ini dapat dikembangkan dan diaplikasikan sebagai pola pembelajaran bagi para guru kepada para murid, referensi karya tulis bagi para guru dan atau sebagai panduan supervisi bagi para guru, terutama terkait dengan pembinaan karakter. Oleh karena itu, Proyek Perubahan ini dapat diteruskan sebagai bagian kordinasi bersama para pengawas Pendidikan Agama Katolik. Dengan demikian, terlaksana pula program monitoring supervisi pembelajaran.”

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Drs. H. Sa’ban Nuroni, MA., menyampaikan, “Carolus Baromeus Ismulyadi mampu mewujudkan capaian proyek perubahan melalui proyek perubahan dengan membangkitkan kemampuan dan potensi para guru Pendidikan Agama Katolik Kabupaten Sleman dalam bidang penulisan, terutama berkaitan dengan pengalaman hidup.” Lebih lanjut, dalam kapasitas sebagai mentor, Kankemenag Kabupaten Sleman, menyatakan, “Project leader, melalui pendekatan Appreciative Inquiry, mampu mensinergikan karya tulis ini dengan Lima (5) Nilai Budaya Kerja (Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Keteladanan, dan Tanggungjawab) di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia.”

“Melalui kelengkapan dokumen yang disiapkan/disajikan, Project Leader menunjukkan keseriusan dalam melaksanakan proyek perubahan. Tentu saja, capaian jangka pendek dan prototipe ini masih bisa ditindaklanjuti, baik melalui publikasi dalam bentuk buku maupun ruang penulisan bagi para guru di website Kemenag Kabupaten Sleman,” tutur Drs. H. Sa’ban Nuroni, MA.

Menurut CB. Ismulyadi, SS, M.Hum., “Proyek Perubahan ini menggandeng lembaga pemerintah dan swasta. Penyelenggara Katolik Kankemenag Kab. Sleman menjalin kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Sleman. Kemitraan antarlembaga Pemerintah ini akan diwujudkan dengan pelaksanaan program literasi kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman. Dalam rangka kerja sama dengan pihak swasta, project leader telah menggandeng Penerbit-Percetakan KANISIUS, Yogyakarta untuk memublikasikan kisah inspiratif para guru terkait 5 nilai budaya kerja; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan dalam konteks Guru Pendidikan Agama Katolik Kankemenag Kab. Sleman.*** (ism)

Dibaca
Today Visitor :1
Total Visitor : 43
Total Hits : 45.79K