BERITA

Tuesday, 01 October 2019 05:41 PM

Profesor Muhammadiyah Amin: Negara Kita Bukan Negara Agama, Tetapi Bukan Juga Negara Hampa Agama

Plt Dirjen Berfoto Bersama Peserta Yang Berkostum Tradisonal

Jakarta(DBKat)--Plt Dirjen Bimas Katolik, Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M.Ag mengapresiasi kegiatan Pembinaan Penguatan Ideologi Pancasila bagi Pengawas Pendidikan Agama Katoik Tingkat Nasional. Apresiasi ini disampaikan pada saat Plt Dirjen membuka kegiatan ini, Selasa, 1 Oktober 2019 di RedTop Hotel, persis bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

“Saya mengapresiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik yang menyelenggarakan acara ini tepat waktu, tepat momen, dan tepat tempat, karena bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Saya pikir dari 11 unit Eselon I Pusat, hanya Ditjen Bimas Katolik yang menyelenggarakan kegiatan bertemakan Pancasila persis pada momen Hari Kesaktian Pancasila,” ungkap Plt Dirjen disambut tepuk tangan peserta yang hadir.

Lebih lanjut, Plt Dirjen menyampaikan pentingnya revitalisasi nilai-nilai Pancasila bagi Pengawas Pendidikan Agama Katolik. “Negara kita bukan negara agama, tetapi bukan juga negara hampa agama. Negara kita adalah negara Pancasila, yang melindungi 6 agama resmi,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, tahun 2019 Menteri Agama melaunching tiga mantra Kementerian Agama, yakni Moderasi beragama, Kebersamaan Umat, dan Integrasi Data. Kegiatan ini, menurut Plt Dirjen, setidak-tidaknya merepresentasi dua dari tiga mantra tersebut, yakni Moderasi Beragama dan Kebersamaan Umat.

“Mengapa Moderasi Beragama itu penting, karena moderasi beragama adalah pengakuan terhadap kebenaran masing-masing agama yang dianut umatnya. Kita tidak bisa menyalahkan agama yang dianut orang lain dan menganggap hanya agama kita saja yang benar. Itu yang saya yakini sejak saya kuliah  S1 sampai saat ini saya telah menjadi Profesor, bahkan Profesor Agama,” tegas Plt Dirjen.

“Moderasi Beragama perlu karena sudah lunturnya keberagamaan di Indonesia. Bahkan politik bisa memisahkan. Tidak ada agama manapun yang menekankan penghujatan terhadap agama lain,” lanjutnya.

Plt Dirjen terkesan dengan apa yang disampaikan pakar tafsir Al-Qur'an Quraish Shihab saat memberikan tausiyah pada acara halal bi halal Aparat Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, beberapa waktu lalu, dimana ada tiga hal penting mewujudkan Moderasi Beragama, yakni  1) Moderasi Beragama perlu ilmu. Orang tidak bisa bicara Moderasi Beragama kalau ilmunya tidak cukup. 2) Jangan cepat emosi, harus bisa kendalikan emosi dengan baik. 3) Hati-hati, jangan menganggap diri benar, dan orang lain salah.

Moderasi Beragama ini juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Plt Dirjen menganaloginya dengan seorang dokter yang harus mengoperasi pasien dan pada saat bersamaan waktunya untuk beribadah. Yang lebih dahulu dilakukan adalah operasi pasien, ibadah bisa dilakukan setelahnya. Itulah arti kemanuasiaan.

Plt Dirjen juga mengapresiasi sikap Menteri Agama yang menjalankan sungguh-sungguh Moderasi Beragama ini. “Saat ini, Menteri Agama dan Bapak Sekretaris Ditjen Bimas Katolik sedang bertolak menuju Vatikan untuk mengikuti rangkaian kegiatan penting, dan sebelum berangkat ke Vatikan, Menteri Agama menemui Mgr. Ignatius Suharyo untuk pamit. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap keberagaman,” tegasnya.

Menutup arahannya, Plt Dirjen yang merasa dirinya tepat ketika dipilih Menteri Agama untuk melaksanakan tugas sebagai Plt Dirjen Bimas Katolik karena penghargaannya terhadap keberagaman ini, mengucapkan terima kasih kepada Panitia yang telah mengundang para Pengawas Pendidikan Agama Katolik untuk mengikuti kegiatan penting ini. Beliau berharap kegiatan ini bermakna dan revitalisasi nilai-nilai Pancasila dilaksanakan dan disosialisasikan kepada Guru Pendidikan Agama Katolik dan anak-anak didik di tempat tugasnya masing-masing.

Plt Dirjen membuka kegiatan ini secara resmi, ditandai dengan pemukulan gong sebanyak lima kali, sebanyak sila Pancasila.

Kegiatan ini diikuti 120 peserta selama empat hari, 1 s.d. 4 Oktober 2019. Saat upacara pembukaan, para peserta memakai kostum tradisional. Warna-warni nusantara yang membuat suasana semakin semarak.

Selamat berkegiatan. (Joice/Alfa)

Dibaca
Today Visitor :1
Total Visitor : 44
Total Hits : 56.43K