OPINI

Wednesday, 18 March 2020 02:45 PM

CORONA: ANTARA GRENZSITUATIONEN dan KARYA KESELAMATAN TUHAN

Ilustrasi Corona

I. CATATAN AWAL

Manusia seantero jagat saat ini sedang mencurahkan perhatian, tenaga, pikiran, dan perasaan terhadap sebuah serangan virus yang mematikan. Para ahli menyebutnya dengan virus corona atau COVID-19. Dari berbagai sumber dijelaskan bahwa corona dalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Lebih mencemaskan lagi, sampai saat ini belum diketahui penyebab virus corona. Para ahli melalui studi laboratorium menjelaskan bahwa virus ini disebarkan oleh hewan dan mampu menjangkit dari satu spesies ke spesies lainnya, termasuk manusia.

Pada titik ini, saya harus menghindar dari  analisis tentang virus corona, karena saya tidak cukup pengetahuan soal ini. Saya hanya menempatkan argumentasi saya pada sebuah refleksi filosofis  dan juga sedikit teologis tentang hadirnya virus corona yang membawa kecemasan eksistensial manusia dan akhirnya  menggiring manusia pada situasi batas ketakberdayaan dan harapan akan keselamatan sebagai sebuah perjuangan eksistensial khas manusia.

II. VIRUS CORONA: SITUASI BATAS?

Semua manusia menyadari bahwa virus corona sedang mengintai manusia dalam lingkaran ruang dan waktu. Manusia secara kodrati niscaya hidup dalam ruang dan waktu tersebut. Filsuf berkebangsaan Jerman, Karl Jaspers dalam Das Umgreifende (dimensi kenyataan yang melingkupi manusia) menjelaskan bahwa manusia memiliki dimensi Dasein. Artinya manusia ada dan hadir dalam ruang dan waktu. Keterikatan dalam ruang dan waktu secara tidak langsung memaksa manusia untuk hidup bersama “yang lain” sebagai  makhluk sosial yang oleh Aristoteles disebut sebagai Zoon Politicon. Zoon berarti “hewan” dan Politicon berarti “bermsyarakat” . Zoon Politicon “hewan yang bermasyarakat,  atau oleh Adam Smith lebih jelas menyebutnya dengan istilah Homo Homini Socius.

Dalam konteks ini saya mau menegaskan bahwa manusia benar-benar ada dan hadir dalam situasi ruang dan waktu, hic et nunc (di sini dan sekarang). Manusia “hic et nunc“ hidup sebagai makluk sosial. Konsekuensi manusia sebagai makluk sosial saat ini sedang berada dalam pertaruhan dahsyat antara pilihan menjalankan prinsip Zoon Politicon, Homo Homini Socius atau Social Distancing demi keselamatan diri. 

Sebuah pilihan dilematis. Tapi saya yakin mayoritas akan lebih memilih social distancing karena manusia secara kodrati memiliki ketakutan terhadap kematian, apalagi mati karena corona. Situasi takut akan kematian ini, oleh Karl Jaspers disebut sebagai Grenzsituationen (situasi batas). Intinya manusia tidak mau mati sia-sia hanya karena virus corona.

III. MANUSIA TAKUT  MATI, LALU BAGAIMANA SOLUSINYA

Bicara soal solusi, sangatlah beragam. Hal ini dapat dibuktikan dari gerak cepat para pemimpin negara dunia, termasuk Indonesia, dalam menyikapi bahaya virus corona mulai dari lockdown hingga social distancing. Saya tidak masuk pada rana ini. Saya hanya mau menegaskan beberapa hal sebagai prinsip dasar manusia yang secara kodrat telah dikaruniai kemampuan untuk menghadapi setiap tantangan dan situasi batas kehidupan. 

Saya berpikir, prinsip bonum commune (kebaikan bersama) mungkin menjadi salah satu alternatif “jalan tengah”, artinya demi kebaikan bersama setiap orang  harus memperhatikan protokol yang sudah ditetapkan lembaga berwewenang tanpa mengabaikan relasi antarmanusia. Dalam relasi antarmanusia ini ada “roh” yang menggerakkan agar manusia mampu mengendalikan diri. Karl Jaspers menyebutnya sebagai Geist yang berarti “roh” dimengerti sebagai dimensi rohani yang  menciptakan kesatuan dalam pemikiran, perasaan, dan tindakan melalui ide-ide. Roh ini yang mampu membawa manusia untuk memahami ekstensinya sebagai manusia dalam hubungannya dengan sesama dan yang Transenden (Tuhan).

Tolstoy seorang novelis bahkan filsuf Rusia pernah menulis dalam catatan hariannya, “Saat aku memikirkan Tuhan, gelombang sukacita membanjiri diri aku. Segala sesuatu menjadi hidup dan berarti. Mempercayai-Nya, aku hidup. Melupakan-Nya, aku mati.” Hal serupa ditegaskan oleh pemazmur yang tertulis dalam Kitab Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku. Spirit ini dipertegas oleh Sang Guru Agung Yesus Kristus dalam Matius 11:23, “Datanglah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”.

IV. BELAJAR DARI  TULAH MESIR DAN TEMUKAN KARYA KESELAMATAN TUHAN

Semua orang Kristiani harusnya mengetahui cerita tentang “tulah di Mesir” yang tertulis dalam Kitab Keluaran. Saya kutip tulah di Mesir seperti yang tertulis dalam Kitab Keluaran yakni:  air berubah menjadi darah, katak memenuhi semua penjuru Mesir, debu di Mesir berubah menjadi nyamuk, ribuan lalat pikat bermunculan dan memenuhi semua penjuru Mesir kecuali tempat yang dihuni Bangsa Israel, munculnya penyakit sampar pada semua ternak di Mesir, munculnya penyakit  bisul pada manusia juga binatang yang ada di Mesir,munculnya hujan es yang disertai dengan api, munculnya belalang yang banyak dan menghabiskan semua tumbuhan di wilayah Mesir, mesir menjadi gelap gulita selama 3 hari penuh dan semua anak sulung yang ada di Mesir mati.

Saya pikir–pikir, virus corona dan tulah Mesir ada mirip-miripnya, sekurang-kurangnya ketakutan, malapetaka, kematian menjadi cerita yang sama. Namun ada satu hal yang luar biasa dari cerita Tulah Mesir adalah umat Tuhan terselamatkan karena darah anak domba yang ditempelkan pada palang rumah mereka.

Semua orang Kristiani mengerti dan percaya bahwa darah Anak Domba dalam Perjanjian baru adalah Yesus Kristus sendiri. Kita percaya bahwa darah-Nya tertumpah di atas kayu salib untuk menyelamatkan manusia. Jika iman kita  sebesar biji sesawi saja akan darah Yesus, maka semua tulah, sakit penyakit serta virus akan jauh dari kehidupan kita. Pada titik ini kita boleh bermadah bersama pemazmur : “Tuhan penjaga dan benteng perkasa, dalam lindungan-Nya aman sentosa”.

V. CATATAN AKHIR

Virus, penyakit, tulah adalah situasi yang niscaya. Manusia bebas memutuskan bagaimana harus menyikapi. Tapi manusia diberi roh untuk membuat situasi batas, sebagai jembatan untuk menemukan kekuatan transenden yang menyelamatkan.

(Penulis/ Alfa Edison S. Fil/ Staf Subbag Sisfo dan Humas Ditjen Bimas Katolik).

 

Dibaca
Today Visitor :1
Total Visitor : 179
Total Hits : 136.62K